KembaliKembali ke artikel

Catatan Estetika 4: Hidup Sebagai Karya Seni (Prof. Bambang Sugiharto)

31 Juli 2026

18 menit baca

5 pembaca

Catatan Estetika 4: Hidup Sebagai Karya Seni (Prof. Bambang Sugiharto)

Catatan dan refleksi dari Kuliah Estetika keempat bersama Prof. Bambang Sugiharto tentang bagaimana seni, agama, dan filsafat masing-masing menempuh jalan berbeda menuju misteri kehidupan yang sama.

Estetika

Hidup sebagai karya seni

Prof. Bambang membuka kuliah ini dengan sebuah gagasan yang sederhana namun menarik: seluruh hidup manusia, mau tidak mau, adalah sebuah proses penciptaan. Kita semua adalah seniman dari kehidupan kita masing-masing. Dari hari ke hari, kita membayangkan ingin menjadi apa, mengarahkan hidup ke mana, dan membayangkan seperti apa kehidupan yang kita inginkan. Imajinasi tentang masa depan itulah yang jadi motor penggerak utama, meski tentu ada fakta-fakta dasar yang tidak bisa kita pilih seperti di mana kita lahir, bagaimana tampang kita, latar belakang keluarga seperti apa yang kita warisi.

Tapi di luar batasan-batasan itu, sebagian besar arah hidup masih di tangan kita. Seseorang yang lahir di kota kecil dengan tampang sederhana tidak harus menghabiskan seluruh hidupnya berpikir dalam kotak yang sempit. Ia bisa memilih jalan lain: mengembangkan diri, membaca lebih banyak, berkelana lebih jauh, dan melampaui konteks asal-muasalnya hingga akhirnya tampil di panggung internasional. Yang membedakan kedua kemungkinan itu bukan nasib, melainkan bagaimana seseorang mengarahkan imajinasinya dan imajinasi, menurut Prof. Bambang, adalah mesin yang menggerakkan segalanya.

Akar seni: keterpesonaan pada misteri dan drama kehidupan

Sebelum membandingkan seni dengan agama dan filsafat, Prof. Bambang menempatkan satu fondasi yang harus dipahami lebih dulu: bahwa segala proses kreatif dalam seni tidak dimulai dari keinginan untuk membuat sesuatu yang indah. Ia dimulai dari pengalaman yang jauh lebih mendasar, yaitu keterpesonaan oleh keajaiban, oleh misteri, dan oleh drama kehidupan itu sendiri.

Drama kehidupan, kalau kita mau memperhatikan, nyaris tidak pernah berhenti terjadi di sekeliling kita. Kemarin belum ada bunga, pagi ini tiba-tiba mekar dengan warna yang mencolok. Langit yang tadinya biru polos mendadak berubah menjadi jingga keemasan saat matahari terbenam, sesuatu yang kita saksikan hampir setiap hari tapi tetap tidak pernah benar-benar biasa. Api yang tadinya jinak tiba-tiba membesar dan mengamuk begitu disiram minyak. Napas kita sendiri, di udara yang dingin, mengeluarkan kabut putih yang aneh dan indah. Seorang ibu hamil membawa embrio yang perlahan tumbuh, bergerak, dan akhirnya lahir menjadi manusia dengan tampang serta karakter yang sepenuhnya baru. Bahkan kuku yang belah karena tersandung ke sudut meja pun punya dramanya sendiri. Semua kejadian kecil itu, kalau kita benar-benar hadir saat menyaksikannya, menyeret perhatian kita ke arah sesuatu yang lebih besar dari sekadar fakta fisik ke arah pertanyaan tentang betapa ajaib dan misteriusnya hidup ini.

Dan ketika drama itu mencapai titik yang paling intens, ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi di hadapan kita, pertanyaan-pertanyaan besar itu tidak bisa lagi kita tunda. Bayangkan sedang naik motor bersama seseorang yang tampak cantik atau keren di samping kita. Dalam hitungan detik, ia ketabrak dan terkapar berdarah. Dalam momen seperti itu, pikiran kita tidak bisa berhenti: apa yang baru saja terjadi? apa artinya? betapa tipisnya jarak antara ada dan tiada? Dalam sekejap, kita dipaksa berhadapan dengan misteri kehidupan yang biasanya tersembunyi di balik rutinitas.

Dan inilah yang justru menyedot para seniman, dorongan untuk melukiskan pengalaman itu, untuk merumuskan drama itu dalam sebuah syair, untuk mengabadikannya dalam gubahan musik. Komposer Norwegia bernama Grieg, misalnya, terpesona oleh suasana pagi hari di tepi danau dan menghabiskan waktu lama berusaha menangkap pengalaman itu melalui bunyi-bunyian orkestral. Yang dihasilkan bukan sekadar tiruan suara alam, melainkan rumusan dari pengalaman estetik itu sendiri. Inilah, menurut Prof. Bambang, akar paling dalam dari seni: bukan keinginan untuk memperindah dunia, melainkan dorongan yang nyaris tak terbendung untuk merumuskan misteri yang sudah terlanjur memikat.

Seni dalam era pramodern: pelayan yang setia kepada agama

Di era pramodern, seni tidak berdiri sendiri sebagai aktivitas yang otonom. Ia hidup dalam gandengan erat dengan agama, dan pada saat yang sama membawa bobot filosofis yang tidak ringan. Bentuk paling jelas dari kemesraan ini adalah mitos. Sangkuriang, Bawang Merah Bawang Putih, Malin Kundang, Oedipus Rex tidak ada satu pun dari cerita-cerita itu yang sekadar menghibur. Di balik setiap dongeng tersembunyi perenungan tentang baik dan buruk, tentang benar dan salah, tentang nasib yang tidak bisa dilawan dan pilihan yang harus tetap diambil. Mitos, dalam pengertian ini, adalah embrio filsafat yang belum berbentuk konsep, tapi sudah hidup dalam imajinasi.

Mitos-mitos itu kemudian diritualisasikan dalam agama, dan di sinilah seni menemukan fungsi sosialnya yang paling kuat. Ritual bukan gerakan-gerakan simbolik yang dilakukan tanpa kesadaran. Ritual adalah cara manusia merenungi misteri-misteri kehidupan melalui jalur imajinasi dan perasaan, jalur yang justru paling efektif karena manusia tidak hanya membutuhkan pemikiran abstrak, tapi juga butuh atmosfer, butuh suasana, butuh gerakan nyata yang membuat misteri itu terasa konkret dan hadir. Orang berlutut, bersujud, membuat tanda salib, berwudhu, bersembahyang dengan berbagai gerakan tidak ada yang kebetulan di sana, semua dirancang untuk membawa batin ke kedalaman tertentu.

Dan penggunaan seni dalam ritual ini bukan fenomena satu budaya saja. Kaligrafi di dunia Islam dan Cina bukan sekadar hiasan dinding; ia adalah latihan spiritual untuk memperhalus dan mendisiplinkan batin. Di India, menggambar di tanah atau pasir adalah bagian dari ritual penyembuhan, bukan sekadar dekorasi. Di dunia Kristiani, warna ungu yang menutupi salib selama masa pra-Paskah menciptakan suasana keprihatinan yang meresap ke dalam batin umat dengan cara yang mustahil dicapai lewat khotbah saja. Gamelan dalam ritual Jawa, musik dalam misa Kristiani semua adalah seni yang berfungsi memperkuat pengalaman spiritual. Tanpa seni itu, pengalaman religius tidak akan sedalam dan seefektif itu, karena manusia membutuhkan lebih dari kata-kata untuk menghayati yang transenden.

Wayang kulit adalah contoh lain yang sangat vivid. Orang rela duduk semalam suntuk bukan hanya karena ceritanya seru, tapi karena di sana mereka bisa merenungi pertanyaan-pertanyaan besar tentang hidup: apa itu kesetiaan, apa itu kepahlawanan, apa itu pengkhianatan dan semua itu diperagakan kembali oleh sang dalang melalui sosok-sosok wayang dan cerita yang kaya lapisan maknanya. Dan tradisi bercerita di tepi tempat tidur yang dilakukan ibu-ibu kepada anak-cucunya? Itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Itu adalah pendidikan nilai yang paling awal dan paling intim, dengan filosofi hidup yang terselip di balik setiap kisah yang diceritakan.

Era modern: seni menjadi otonom

Sejak Era Aufklärung pada abad ke-18, perubahan besar mulai terjadi di dunia Barat yang pelan-pelan merembes ke mana-mana. Agama makin tersingkir dari kehidupan publik, bukan tanpa alasan: sains dan filsafat muncul dengan tawaran yang terasa lebih meyakinkan, yaitu nalar, bukti, dan kepastian. Di saat yang sama, institusi gereja mengalami krisis moral yang cukup parah, sehingga berpikir bebas terasa seperti menghirup udara segar setelah lama terkurung. Dalam situasi ini, seni pun ikut terlepas dari ikatan agama yang selama ini membelitnya.

Tapi di sinilah yang menarik: ketika agama tersisih, spiritualitas dan kehidupan batin manusia ternyata tidak ikut menghilang. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi selain ke karya-karya seni. Dan perlahan-lahan, seni mengambil peran yang sebelumnya menjadi milik agama.

Itulah mengapa di Eropa dan Amerika, orang-orang modern mulai mengutip kalimat-kalimat dari novel Dostoevsky atau Tolstoy dengan kekhusyukan yang sama persis seperti orang mengutip ayat suci. Itulah mengapa mereka memasuki gedung konser untuk mendengarkan simfoni Beethoven dengan khusyuk yang tidak berbeda dengan orang masuk rumah ibadah. Galeri-galeri seni besar berubah menjadi semacam katedral modern, tempat orang mencari kontemplasi batin, mencari makna, mencari sesuatu yang melampaui hari-hari biasa. Para komposer dan pelukis besar menjadi nabi-nabi baru dalam "agama seni" yang tidak resmi ini.

Dari sinilah lahir konsep seni murni atau seni tinggi: seni yang memang muncul dari perenungan mendalam, bukan dibuat untuk menghiasi dinding, bukan untuk membungkus produk komersial, bukan untuk menghibur pesta. Seni murni dibuat semata-mata untuk direnungi, dan penikmatnya adalah mereka yang mampu mengapresiasi kompleksitas yang dikandungnya. Menjadi manusia modern yang berbudaya, dalam kerangka ini, berarti mampu membaca novel-novel besar, mampu menghayati musik klasik, mampu berhadapan dengan karya seni yang tidak memberikan jawaban instan.

Dan dalam perjalanan evolusinya, seni murni ini justru makin bergerak ke arah yang makin spiritual dan makin filosofis. Lukisan yang tadinya masih representasional yang masih bisa dikenali objeknya, pelan-pelan bergerak menuju abstraksi. Dalam lukisan abstrak, bentuk tidak lagi jadi fokus; yang penting adalah warna dan komposisi, yang diyakini berkorelasi langsung dengan kedalaman batin paling misterius. Kemudian muncul konseptualisme, di mana bentuk fisiknya bisa apa saja, tapi konsep di baliknya yang jadi inti. Semakin ke dalam perjalanan ini, semakin immaterial bentuknya, semakin sulit dipahami orang awam, dan justru karena itu, semakin jelas terlihat bahwa seni ini sebenarnya bergerak ke ranah spiritual.

Era postmodern: seni kembali ke kehidupan sehari-hari

Namun, seni yang terlampau otonom dan eksklusif itu pada akhirnya mendapat perlawanan juga. Dalam situasi postmodern, seni yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang "sudah paham" mulai dianggap elitis dan tidak realistis. Terjadilah revolusi arah: seni dikembalikan ke ranah sehari-hari, dicampuradukkan dengan banalitas kehidupan biasa, dijadikan blur dengan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya dianggap terlalu rendah untuk disebut "seni".

Klaim yang muncul dari situ sesungguhnya sudah lama tersirat: apa pun bisa menjadi karya seni. Dalam percakapan sehari-hari, kita memang sudah lama menggunakan kata "seni" untuk segala macam hal seperti seni memasak, seni berpidato, seni bercocok tanam, seni membaca, bahkan seni berperang. Tapi apakah itu benar-benar seni? Bagaimana memasak yang paling sederhana pun, ketika dilakukan oleh tangan yang benar-benar paham dan menghayati, bisa mencapai kedalaman yang luar biasa, seperti kuliner ala Perancis atau Jepang pada tingkat tertingginya yang merupakan seni seserius lukisan atau simfoni. Seni mengawinkan bunga pun bisa mencapai kedalaman yang tidak kalah menakjubkan. Retorika sebagai seni berpidato adalah tradisi yang sangat adiluhung dan sudah ada sejak zaman Yunani kuno.

Pemikir seperti Arnold Berleant dan John Dewey sudah lama melihat ke arah ini: bahwa seni pada dasarnya tidak boleh dibatasi pada wilayah museum dan gedung konser. Seni terhubung erat dengan pengalaman sehari-hari, dan pemisahan yang terlalu ketat antara keduanya justru membuat seni kehilangan vitalitasnya. Ketika seni dipisahkan sepenuhnya dari kehidupan, ia justru berisiko menjadi hiasan yang indah tapi tidak berakar pada apa yang benar-benar manusia alami.

Arthur Danto, filsuf seni Amerika, bahkan mencanangkan apa yang ia sebut "the end of art". Tapi yang dimaksud bukan bahwa seni benar-benar berakhir atau mati. Yang berakhir adalah gagasan bahwa seni harus mematuhi satu standar tertentu, satu definisi yang kaku tentang apa yang boleh disebut seni. Seni sekarang lebih luas, lebih inklusif, dan masuk kembali ke dalam kehidupan sehari-hari, mirip dengan posisinya di era pramodern, tapi dalam konteks zaman yang sama sekali berbeda.

Estetika eksistensi: Nietzsche dan seni sebagai cara hidup

Salah satu inspirator terbesar dari revolusi pemahaman tentang seni ini adalah Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman yang di masa hidupnya dianggap gila dan baru dihargai lebih dari seratus tahun kemudian. Nietzsche melihat sesuatu yang sangat fundamental: bahwa seni pada hakikatnya bukan soal lukisan atau patung atau musik semata, melainkan soal "aesthetics of existence", yaitu estetika keberadaan, atau estetika kehidupan itu sendiri.

Apa maksudnya? Menurut Nietzsche, segala sesuatu yang kita ciptakan dalam hidup, seperti kebudayaan yang kita bangun bersama, tata nilai yang kita rumuskan, serta cara kita merekayasa dan menciptakan kembali makna hidup seiring perubahan zaman, semua itu pada hakikatnya adalah kerja seni. Sejarah manusia, dari sudut pandang ini, adalah sejarah kreativitas estetik dan artistik.

Prof. Bambang memberikan contoh yang sangat menarik untuk mengilustrasikan gagasan ini. Di masyarakat-masyarakat tertentu zaman dulu, balas dendam adalah nilai yang dianggap sangat penting dan mulia, karena diyakini mengembalikan keseimbangan kosmik yang terganggu. Tapi kemudian, terutama karena pengaruh agama-agama besar, nilai itu berubah total: mengampuni justru dianggap lebih luhur daripada membalas dendam. Itu bukan perubahan fakta ilmiah, melainkan penciptaan nilai baru, sebuah proses estetik tentang bagaimana hidup sebaiknya dibentuk dan dimaknai oleh manusia.

Perubahan serupa terjadi juga dalam pemahaman tentang kekuasaan. Dulu, kekuasaan diukur dari kemampuan menaklukkan lebih banyak wilayah dan menundukkan lebih banyak orang. Seiring waktu, agama-agama besar mengubah citra itu sepenuhnya: kekuasaan yang sesungguhnya hebat justru adalah yang mampu merangkul yang paling lemah. Itu adalah pembalikan total atas satu sistem nilai, dan pembalikan itu sendiri adalah karya estetik. Yang paling mengejutkan mungkin adalah pernyataan Mahatma Gandhi bahwa kemiskinan adalah bentuk kekerasan terburuk, sebuah refleksi estetik yang kreatif luar biasa, yang membalik cara kita memahami kekerasan dan tanggung jawab sosial.

Perbedaan seni dengan agama

Meski seni dan agama sama-sama berurusan dengan misteri kehidupan, keduanya memiliki cara kerja yang sangat berbeda, dan perbedaan ini menjelaskan mengapa keduanya sering berbenturan dalam sejarah.

Agama sangat berkonsentrasi pada struktur dogmatik, yaitu ajaran-ajaran yang diyakini datang dari Tuhan dan karena itu cenderung dimutlakkan. Ketika sesuatu sudah dimutlakkan, kebebasan kreatif jadi sempit: setiap ungkapan seni yang sedikit melanggar batas langsung dianggap tidak bermoral atau bertentangan dengan ajaran. Ada kecenderungan kuat, terutama dalam agama-agama Semitik, untuk mengaitkan moralitas dengan hal-hal badani dan seksualitas, sementara korupsi jabatan, manipulasi, dan ketidakjujuran di wilayah sosial justru lebih ditoleransi. Ada kepincangan yang cukup aneh di situ, yaitu penyempitan konsep moralitas yang sebenarnya jauh lebih luas dari yang diperbolehkan oleh kerangka dogmatik.

Lebih dari itu, agama cenderung menghitamputihkan realitas menjadi dua kutub yang saling bertentangan: dosa dan suci, boleh dan tidak boleh, masuk surga dan masuk neraka. Bagi orang yang sudah terbiasa merenung dan berpikir mendalam, simplifikasi itu terasa terlalu sederhana untuk menjelaskan kompleksitas hidup yang sesungguhnya, yaitu hidup yang tidak pernah benar-benar hitam putih.

Seni, justru karena itu, bekerja dengan prinsip yang berlawanan. Novel yang bagus, film yang bagus, selalu memperlihatkan kerumitan dan kompleksitas hidup yang tidak pernah selesai dijelaskan. Tokoh-tokohnya tidak bisa dinilai semudah itu sebagai "baik" atau "buruk", karena mereka punya sisi yang tidak terduga, motivasi yang tidak bisa direduksi menjadi satu kalimat, konflik batin yang tidak terselesaikan sampai akhir cerita. Setelah membaca novel yang kuat, kita tidak keluar dari cerita itu dengan kesimpulan moral yang jelas. Kita keluar dengan kesadaran yang lebih luas: bahwa hidup itu rumit, penuh kejutan, tidak sesederhana yang kita kira.

Dan inilah sebabnya dunia seni dan dunia agama sering bertabrakan: karena keduanya memang bekerja dengan logika yang sangat berbeda. Seni menghidupkan ambiguitas sebagai kekuatannya, sementara agama cenderung menghilangkan ambiguitas demi kepastian dogmatik yang menenangkan.

Ada satu hal menarik lagi yang Prof. Bambang tunjukkan tentang perbedaan ini. Orang-orang Barat modern yang menjadikan seni sebagai sumber spiritualitas mereka cenderung lebih toleran terhadap perbedaan dibandingkan mereka yang menjadikan agama sebagai satu-satunya nutrisi batin. Mengapa? Karena mereka tidak pernah melihat seniman besar sebagai figur yang mutlak dan suci. Beethoven, Shakespeare, Dostoevsky, mereka semua adalah inspirator, bukan nabi yang harus dipatuhi tanpa reserve. Tidak ada kemutlakan di sana, tidak ada ancaman dosa bagi yang tidak mengikuti. Ruang untuk perbedaan dan keragaman dengan sendirinya menjadi lebih luas.

Perbedaan seni dengan filsafat

Jika dibandingkan dengan agama, seni dan filsafat justru memiliki kemiripan yang jauh lebih kuat. Keduanya bersifat spiritual, keduanya berurusan dengan misteri hidup, keduanya menggali kedalaman yang tidak bisa dicapai oleh sains semata. Tapi di balik kemiripan itu, cara kerja masing-masing berbeda secara mendasar.

Filsafat menggunakan logika konseptual, dan dalam hal ini ia lebih mirip sains daripada seni. Ia bekerja dengan premis, argumen, kesimpulan, silogisme, dan definisi-definisi yang dibakukan. Tujuannya adalah kejelasan konseptual dan ketepatan makna, di mana kalimat harus bisa ditafsirkan dengan satu cara yang sama oleh semua orang yang membacanya.

Seni menggunakan logika yang sama sekali berbeda: logika perasaan dan imajinasi. Logika ini tidak bergerak melalui premis dan silogisme, melainkan melalui asosiasi, efek rasa, dan resonansi emosional yang tidak bisa direduksi menjadi rumusan verbal. Ketika kita melihat sesuatu yang miring, kita merasa cemas, bukan setelah kita berpikir tentang mengapa itu miring, tapi langsung, seketika. Ketika melihat duri atau ujung yang tajam, kita merasa tidak nyaman tanpa perlu penjelasan. Ketika mendengar petir di malam yang gelap, kita takut meski secara konseptual kita tahu bahwa itu hanyalah gesekan elektron di awan. Logika rasa dan imajinasi ini bekerja di bawah kesadaran konseptual kita, dan para seniman yang cerdas memainkannya dengan keterampilan yang luar biasa.

Adegan-adegan dalam film yang baik tidak mengikuti pola yang sudah bisa ditebak oleh penonton. Ia menemukan cara yang tidak terduga, dan justru karena itu, ia lebih "nendang" secara emosional. Prof. Bambang menyebut sebuah film yang menggunakan imaji seekor gajah berenang secara sangat efektif untuk menciptakan efek rasa tertentu yang tidak bisa dijelaskan dengan konsep apa pun, tapi langsung terasa oleh siapa saja yang menontonnya.

Konsekuensi dari perbedaan logika ini terasa juga dalam hal bahasa. Filsafat bicara melalui denotasi, yaitu makna yang sudah dibakukan dan ditepati secara konseptual, satu kata sama dengan satu pengertian yang pasti. Seni bicara melalui konotasi, yaitu makna yang jamak, imajinatif, terbuka, dan bisa ditafsirkan dalam banyak arah sekaligus tanpa saling membunuh. Puisi yang baik justru kuat karena satu bait bisa membawa lapisan-lapisan makna yang berbeda yang justru saling memperkaya satu sama lain, bukan saling meniadakan.

Penutup: paradoks-paradoks kehidupan sebagai medan seni

Menjelang akhir kuliah, Prof. Bambang mengajak mahasiswa ke satu bagian yang mungkin paling kaya secara filosofis: renungan tentang paradoks-paradoks kehidupan yang ternyata menjadi medan paling subur bagi seni, filsafat, maupun agama.

Semakin kita memburu pengetahuan, semakin kita menyadari betapa tidak tahunya kita sebenarnya, dan semakin banyak yang kita pelajari, semakin jelas batas pemahaman kita. Semakin kita memberi, semakin banyak yang kita dapatkan kembali, dan itu dialami banyak orang secara nyata meski tidak bisa dijelaskan secara logis. Semakin kita mengurung diri di kamar, semakin asing kita dengan diri sendiri; justru dengan makin banyak bergaul dan keluar dari diri, kita makin menemukan siapa kita yang sebenarnya. Kebebasan yang makin besar justru melahirkan kebutuhan akan aturan yang makin ketat dan disadari. Dan mungkin yang paling mengganggu: kehidupan kita sendiri ditopang oleh kematian, karena setiap kali kita makan, baik dari sayuran maupun daging, kita membunuh sesuatu, dalam mata rantai yang tidak pernah putus.

Paradoks-paradoks inilah yang menjadi bahan baku utama seni, filsafat, dan agama. Ketiganya berurusan dengan misteri yang sama, dengan pertanyaan yang sama tentang apa artinya hidup di dunia yang penuh kontradiksi ini. Tapi masing-masing memasuki misteri itu dari pintu yang berbeda dan membawa alat yang berbeda pula. Sains menjelaskan dari jarak yang kritis dan netral. Filsafat menelusuri dengan logika konseptual yang tajam. Agama merangkul melalui iman dan ritual yang menyentuh batin. Dan seni? Seni memasuki melalui imajinasi dan perasaan, melukiskan tanpa mendikte, memperlihatkan kompleksitas tanpa memaksa satu penafsiran tertentu.

Dan karena itu, seni pada hakikatnya selalu spiritual dan selalu filosofis, sekaligus selalu kreatif dan selalu hidup. Inilah mengapa seni yang baik tidak pernah mengulang diri: ia selalu mencari ungkapan baru, selalu menemukan cara pandang baru terhadap misteri-misteri yang sudah ada sejak manusia pertama kali merenung di tepi api unggun, ribuan tahun yang lalu.

Sumber

  • Perkuliahan Estetika 4 oleh Prof. Bambang Sugiharto

Daftar isi

Hidup sebagai karya seni

Baca juga

Artikel sebelumnya

Artikel berikutnya

Dibuat pelan-pelan dengan rasa hangat dari Kuningan.

© 2026 Rifky Haekal Al-Fadillah