24 Juni 2026
•
15 menit baca
Catatan Estetika 2: Ketika Dunia Tidak Cukup Dijelaskan oleh Sains (Prof. Bambang Sugiharto)
Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Estetika seri kedua bersama Prof. Bambang Sugiharto.
Cara kerja sains
Untuk memahami seni lebih tajam, Prof. Bambang membandingkannya secara langsung dengan sains. Sains, pada dasarnya, bekerja dengan cara mencari hukum-hukum atau pola-pola kerja alam. Caranya adalah dengan mengabstraksi atau mengambil sari pati dari pengalaman konkret dan meringkasnya menjadi rumusan yang lebih umum dan universal.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengalamai berbagai bentuk ruang yang kaya dan beragam, tapi sains meringkasnya menjadi konsep-konsep geometris seperti segi empat, segitiga, dan seterusnya. Itu adalah abstraksi dari realitas ruang yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Untuk menunjukkan betapa tipisnya abstraksi sains dibandingkan kekayaan pengalaman konkret, Prof. Bambang menggunakan contoh air. Sains mengabstraksi air menjadi rumus kimia H20, tapi itu hanyalah satu sisi tertentu dari hakikat air yang penjelasannya sangat tipis dibanding pengalaman air yang sesungguhnya kita jalani sehari-hari. Air, dalam Lebenswelt (dunia yang dihayati), memiliki begitu banyak wajah.
Ketika diminum, air punya karakter tertentu yang tiba-tiba merevitalisasi seluruh tubuh yang merupakan sensasi yang tidak terjelaskan oleh rumus H20. Ketika digunakan untuk berwudhu sebelum sembahyang, air menjadi simbol pembersihan batin. Ketika dicampur dengan jamu atau didoakan, air punya dimensi penyembuhan yang melampaui kimia semata. Ketika kita berenang, air mendadak menjadi lingkungan atau atmosfer yang menyelimuti kita dan sama sekali berbeda karakternya dari air yang diminum. Ketika air berubah menjadi tsunami, ia menjadi raksasa yang menelan rumah dan kota, sangat jauh dari sifatnya yang lembut dan cair. Dan ketika kita menyadari bahwa 75% tubuh kita sendiri adalah air, maka air bukan lagi objek di luar diri kita, namun air adalah kita.
Realitas air dalam Lebenswelt itu selalu lebih kompleks, lebih tebal, dan lebih ambigu daripada yang bisa ditangkap rumus kimia manapun. Dan ini bukan eksklusif untuk air, hal yang sama berlaku untuk cinta yang jauh lebih rumit daripada pola-pola umum yang dirumuskan psikologi.
Cara kerja seni
Kompleksitas dan ketebalan realitas yang tidak tertangkap oleh sains itulah yang coba ditangkap dan dirumuskan oleh seni. Novel yang bagus, film yang bagus, selalu adalah yang mampu merumuskan kompleksitas, ketebalan, dan ambiguitas realitas. Semakin rumit dan ambigu isi sebuah karya seni, semakin berbobot dan bersubstansi ia dan bukan sebaliknya.
Jika sains bekerja dengan abstraksi, seni bekerja dengan konkretisasi. Ketika seni ingin berbicara tentang cinta, ia tidak memberikan definisi seperti psikologi. Ia melukiskan cinta lewat tindakan, gerak-gerik, interaksi, dan sosok-sosok konkret tertentu bukan "cinta adalah...", melainkan kisa si A dan si B, seperti Romeo dan Juliet, dengan segala kerumitan dan keanehan perilaku mereka.
Dengan kata lain, sains bicara langsung mengenai yang universal, sedangkan seni bicara melalui yang partikular, melalui tokoh tertentu, situasi tertentu, atau momen tertentu. Contohnya, seorang sutradara seperti Garin Nugroho yang membuat film dokumenter tentang air tidak bicara tentang air secara universal. Ia memotret penjual sirup yang mengambil air dari sungai, orang-orang yang hidup di tepi sungai dan mencuci di sana, hingga seorang bapak yang setiap hari membersihkan sampah dan bangkai dari sungai yang tercemar. Itulah cara seni "melukiskan" air melalui kehidupan konkret manusia yang bergelut dengannya.
Objektifikasi vs. menghidupkan
Perbedaan penting lainnya yaitu sains membutuhkan jarak kritis (distansi kritis) demi objektivitas. Seorang saintis mengambil jarak dari objek yang dianalisisnya untuk bisa melihatnya secara jernih dan netral.
Seni justru bekerja dengan logika yang berlawanan, ia memasuki objeknya. Seorang aktor yang ingin memerankan orang gila tidak akan melakukannya seperti psikolog yang mengobservasi dari jarak, mewawancarai, mencatat gejala. Aktor itu justru akan mencoba menghayati, seakan-akan menjadi orang gila itu sendiri. Seorang pelukis akan menyati dengan objek yang dilukisnya. Seorang sutradara mengambil sudut pandang tokoh yang ia gambarkan. Inilah empati, sebuah kemampuan merasakan apa yang dirasakan, membayangkan apa yang dibayangkan orang lain.
Konsekuensi lebih jauh dalam sains, hampir segala hal bahkan manusia jika perlu diperlakukan sebagai objek mati yang bisa dianalisis, diukur, dan dipisahkan. Ini bagian dari kepercayaan dasar sains bahwa realitas terdiri dari objek-objek yang bisa diteliti secara jernih dan netral.
Seni justru sebaliknya, ia menghidupkan segala hal. Bahkan ketika seorang pelukis menggambar benda mati seperti kursi atau matahari, hasilnya sering terasa "hidup". Itulah mengapa orang sering berkomentar bahwa sebuah lukisan terasa hidup sekali. Contoh paling jelas dari karakter ini adalah film animasi, dalam dunia kartun, benda yang terlindas tidak benar-benar "mati", justru ia bisa kembali bergerak. Sepatu bisa berjalan sendiri, mobil bisa mengobrol dan bahkan jatuh cinta, seperti dalam film Toy Story atau Cars. Seni cenderung memberikan nyawa kepada apa pun yang ia sentuh.
Logika konseptual vs. logika perasaan
Perbedaan paling mendasar mungkin terletak pada jenis logika yang digunakan. Sains menggunakan logika konseptual, warisan Aristoteles dengan silogisme dan aturan-aturan formal yang ketat dan terikat secara konseptual.
Seni bukannya tanpa logika, tapi loginya berbeda, yaitu logika rasa, atau logika asosiasi imajinatif. Ini berarti seni bekerja lewat efek yang ditimbulkan pada perasaan, bukan lewat argumen konseptual. Contoh sederhananya adalah ketika melihat bentuk yang stabil dan seimbang, kita merasa nyaman dan tenang. Ketika melihat sesuatu yang tajam seperti ujung pisau atau duri landak, kita merasa tidak nyaman tanpa berpikir secara sadar. Bentuk yang miring seperti Menara Pisa membuat kita gelisah. Kegelapan membuat kita takut, meski secara konseptual kita tahu petir hanyalah gesekan eletron, tapi pengetahuan itu tidak menghilangkan rasa taku kita saat mendengar guntur di malam yang gelap. Marshmallow yang lembut dan menggembung membuat kita merasa "gemas, ingin meremasnya", bukan karena kita memikirkannya secara rasional. tapi karena ada logika rasa-imajinasi yang langsung bekerja.
Inilah yang dimainkan para seniman: efek rasa. Seorang sutradara cerdas tidak akan melukiskan kemarahan dengan cara klise (orang berteriak dan mencai-maki), melainkan mencari cara yang tidak lazim namun lebih "nendang" secara emosional. Misalnya menggambarkan kemarahan lewat seseorang yang justru makan sambil berkeringat dengan tenang sebelum meledak. Kehebatan seorang seniman, baik penyair, pelukis, maupun sutradara, terletak pada kemampuan menemukan ungkapan yang tidak klise namun tetap menyentuh, bukan sekedar adegan template yang sudah bisa diprediksi penonton.
Menjelaskan vs. melukiskan
Sains selalu berupaya menjelaskan, mendikte, dan memberi rumusan baku yang harus diterima sebagai kebenaran, seperti 1 + 1 = 2. Seni, sebaliknya, melukiskan dan tidak mendikte cara perkiri, melainkan menyajikan dan membiarkan penikmat memaknainya sendiri.
Konsekuensi penting dari perbedaan ini dalam sains, kebakuan adalah hal yang dicari dan dihargai. Menemukan definisi yang tetap dan berlaku iniversal adalah pencapaian. Dalam seni, justru kebaruan yang menjadi nilai utama. Pengulangan dan menyontek dianggap dosa terbesar dalam dunia seni, seorang seniman dituntut untuk terus menampilkan sisi-sisi baru, cara pandang baru, ungkapan baru terhadap pengalaman yang sama. Inilah mengapa muncul fenomena apropriasi dalam seni postmodern, seperti melukis ulang Mona Lisa dengan diberi kumis dan janggut, atau memberi judul ironis pada karya adiluhung, seperti sebuah cara bermain dengan tradisi sambil tetap mengejar kebaruan makna.
Apresiasi seni membutuhkan konteks dan sejarah
Menilai karya seni tidak sesederhana menilai rumus sains. Seorang kritikus seni yang mengatakan sebuah lukisan Picasso "keren" tidak asal bicara, ia melihat riwayat dan proses berkarya seniman itu. Picasso pada periode tertentu, misalnya, mengamati cara cucunya menggambar dengan spontan dan sederhana, lalu sebagai pelukis besar yang sudah matang justru berusaha "kembali" ke spontanitas kanak-kanak itu. Sebuah pencapaian yang hanya bisa dipahami nilainya jika kita tahu proses panjang di baliknya.
Inilah mengapa lukisan abstrak yang tampak, "bisa dibuat siapa saja" sebenarnya menyimpan proses pemurnian bentuk dan ideologi estetika tertentu yang panjang. Tanpa pengetahuan tentang konteks itu, penilaian kita akan dangkal, sama seperti seseorang yang belum pernah ke mana-mana berkata "kampus ini keren" dengan kalimat yang sama persis dengan orang yang sudah mengelilingi dunia akan kembali dengan kesimpulan serupa. Kalimatnya sama, tapi kedalamannya jauh berbeda, seperti perbedaan antara orang awam yang berkata "Tuhan itu ada" dengan seorang filsuf yang sampai pada kesimpulan serupa setelah melalui perjalanan intelektual yang panjang dan berliku.
Peran seni dalam sains
Setelah menjabarkan perbedaan tajam antara seni dan sains, Prof. Bambang menunjukkan bahwa keduanya sebenarnya tidak benar-benar terpisah. Filsuf ilmu Michael Polanyi mengidentifikasi tiga fase dalam kerja sains di mana perasaan dan imajinasi yang biasanya diasosiasikan dengan seni justru memainkan peran penting.
Pertama, fase selektif yaitu ketika seorang ilmuwan atau mahasiswa yang sedang memilih tema penelitian, jarang sekali pilihan itu murni rasional. Biasanya ada unsur "feeling" atau ketertarikan dan intuisi tentang ke mana arah yang menjajikan, serta dorongan rasa yang sulit dijelaskan secara logis murni. Inilah unsur rasa dan imajinasi yang bekerja di tahap paling awal proses ilmiah.
Kedua, fase heuristik (penemuan) yaitu ketika ilmuwan menemukan model atau metafora baru untuk menjelaskan realitas, imajinasi berperan sangat kuat. Einstein membayangkan ruang yang melengkung, sebuah imajinasi visual sebelum semuanya dirumuskan secara matematis dan diargumentasikan. Seorang sosiolog yang membayangkan masyarakat sebagai "mesin" akan menghasilkan model penjelasan yang berbeda dari sosiolog lain yang membayangkan sebagai "organisme hidup". Pilihan metafora dasar ini yang sangat imajinatif, justru akan menentukan seluruh arah teori yang dibangun. Rasionalisasi dan perhitungan biasanya datang belakangan, sesudah lompatan imajinatif awal itu terjadi.
Ketiga, fase persuasif yaitu ketika seorang ilmuwan harus mengomunikasikan temuannya, seperti melalui presentasi, menulis jurnal, dan meyakinkan orang lain. Hal tersebut membuat unsur persuasi mulai bermain, dan ini sangat dekat dengan kerja seniman dalam membuat iklan. Seorang peneliti dengan riset yang berbobot tapi presentasi yang buruk bisa terlupakan, sementara peniliti dengan riset dangkal tapi presentasi yang menarik secara visual justru lebih diperhatikan. Di sinilah para ilmuwan, tanpa sadar, bekerja seperti penyair dan mencari diksi yang tepat, kaya yang pas, rumusan yang "nendang" agar idenya tersampaikan dan diterima.
Itulah beberapa peran seni dalam sains, salah satu sumbangan lain yang menarik dari seni untuk sains adalah bagaimana fiksi ilmiah merangsang imajinasi para ilmuwan untuk mewujudkan teknologi yang sebelumnya hanya ada dalam khayalan. Film-film seperti Star Wars atau Star Trek melukiskan mobil terbang, teleportasi, dan teknologi futuristik lainnya. Rangsangan imajinatif ini turut mendorong arah pengembangan teknologi nyata.
Prof. Bambang memberikan contoh menarik, seperti siaran langsung sepak bola dari belahan dunia lain di televisi sebenarnya merupakan bentuk "embrio teleportasi", kita bisa hadir secara visual dan auditif di tempat yang sangat jauh secara real-time, meski belum dalam bentuk fisik. Siapa tahu, suatu hari teknologi semacam itu benar-benar terwujud secara fisik seperti di dalam fiksi. Karya seni, dalam hal ini, berfungsi sebagai pemicu inventif yang mendahului kenyataan teknis.
Titik temu antara seni dan sains
Salah satu titik pertemuan paling konkret antara seni dan sains/teknologi adalah desain produk. Setiap produk teknologi seperti kamera, kursi, sepatu, telepon, dan mobil pada akhirnya harus didesain dan proses desain itu sendiri mempertimbangkan unsur ilmiah sekaligus artistik secara bersamaan, dengan memerhatikan efek warna, tipografi, ergonomi, kenyamanan fungsi, citra status sosial, perhitungan pasar dan ekonomi. Semua itu adalah pertimbangan ilmiah yang berpadu dengan sensibilitas estetik.
Desain Komunikasi Visual dan periklanan adalah contoh lain tentang bagaimana ilmiah yang terwujud dalam teknologi kemudian "dijual" dan dikomunikasikan kepada publik selalu melibatkan siasat persuasi yang sangat artistik, termasuk kecenderungan untuk melebih-lebihkan demi membangun asosiasi imajinatif yang kuat pada produk.
Satu lagi titik temu yang sering terlewat, bahkan angka dan notasi yang digunakan sains termasuk seperti angka Arab dan Romawi pada dasarnya adalah produk kerja artistik dan grafis. Sistem simbol yang efisien dan mudah dipahami itu sendiri adalah hasil dari kepekaan estetik terhadap bentuk dan komunikasi visual.
Kritik seni terhadap dampak iptek
Selain merangsang penemuan, seni juga berfungsi memberikan kritik evaluatif terhadap dampak jangka panjang dari teknologi, sesuatu yang sulit disampaikan hanya lewat buku pelajaran biasa.
Fil seperti Avatar karya James Cameron, misalnya, menyentuh perasaan penonton tentang kerusakan lingkungan dan arogansi teknologi manusia terhadap alam dan masyarakat pribumi. Sebuah pesan yang secara faktual sudah diketahui semua orang sejak SD, tapi baru benar-benar "menyentuh" secara emosional ketika divisualisasikan secara dramatis dan artistik. Demikian pula film-film bertema kiamat (doomsday films) yang menggambarkan dunia setelah krisis energi dan sumber daya alam, hal tersebut bukan hanya hiburan, melainkan peringatan emosional tentang konsekuensi jika eksploitasi sumber daya terus berlanjut tanpa kendali.
Penutup
Hubungan ini bersifat dua arah. Sebagaimana seni menyumbang bagi sains, perkembangan teknologi juga membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi seni dan melahirkan apa yang sekarang disebut seni multimedia. Seniman tidak lagi terbatas pada satu medium (lukisan atau patung saja), namun sekarang karya seni bisa memadukan elemen tiga dimensi, fotografi, dan sinematik sekaligus. Bahkan dunia seni patung berkembang menjadi patung kinetik yang dapat bergerak, berputar, bahkan menghasilkan bunyi berkat bantuan teknologi.
Kesimpulannya, meski seni dan sains tampak diametral atau seperti abstraksi versus konkretisasi, keduanya memiliki titik temu yang signifikan dan saling memperkaya satu sama lain.
Artikel terkait
17 Juni 2026
•
15 menit baca
Catatan Estetika 1: Memahami Seni, Pengalaman, dan Makna Hidup (Prof. Bambang Sugiharto)
Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Estetika seri pertama bersama Prof. Bambang Sugiharto.