Kembali ke artikel

25 Mei 2026

15 menit baca

Catatan Pengantar Filsafat 3: Seni Hidup Filosofis (Prof. Bambang Sugiharto)

Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Pengantar Filsafat seri ketiga bersama Prof. Bambang Sugiharto.

Filsafat

Setiap orang punya filsafat hidupnya sendiri

Salah satu titik awal yang paling jujur dalam filsafat adalah pengakuan bahwa setiap manusia sebetulnya sudah memiliki pandangan tentang hal-hal pokok dalam hidupnya. Apa itu cinta? Apa itu kerja? Apa itu belajar? Siapa Tuhan? Bagaimana kita menyikapi kematian, kelahiran, persahabatan, pengkhianatan? Semua itu diam-diam telah membentuk semacam "filsafat hidup" di dalam diri kita masing-masing. Hanya saja, sebagian besar dari kita tidak mampu merusmuskan secara eksplisit.

Dalam bahasa filsafat, pandangan-pandangan itu bersifat tacit atau tersembunyi, implisit, terselubung. Seorang ibu penjual warung yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi pun sesungguhnya punya pengertian sendiri tentang persahabatan, kehilangan, tentang hidup yang layak. Bedanya dengan mereka yang bersekolah adalah kemampuan verbalisasi untuk merumuskan pengalaman itu dalam bahasa yang lebih jelas dan sistematis.

Seiring dengan bertambahnya pengalaman hidup, pengertian-pengertian itu tidak statis. Kata "persahabatn" bagi seorang anak SD berbeda dengan maknanya bagi seseorang yang pernah dikhianati oleh sahabat terbaiknya. Kata "beriman" bagi seorang mahasiswa pertama kali kuliah berbeda dengan maknanya setelah ia menjalani bertahun-tahun pergumulan eksistensial. Hidup pada dasarnya adalah proses redefinisi terus-menerus atah hala-hal yang paling pokok.

Petualangan batin dua tipe manusia

Prof. Bambang membedakan dua tipe manusia dalam menghadapi hal-hal pokok ini. Tipe yang pertama adalah mereka yang "ngalir" menjalani hidup mengikuti arus, tidak terlalu mempertanyakan apa pun, menerima pandangan konvensional begitu saja. Ini bukan sesuati yang langsung bisa disalahkan, karena bagaimanapun konvensi juga lahir dari akumulasi pengalaman kolektif yang mengandung kearifan tersendiri.

Tipe kedua adalah mereka yang dengan sengaja mencari dan tidak pernah puas dengan jawaban yang sudah ada, selalu ingin menggali lebih dalam, bahkan berani mempertanyakan hal-hal yang oleh kebanyakan orang dianggap sudah selesai. Inilah yang menurut Prof. Bambang yang sebetulnya dilakukan para filsuf.

Namun ada perbedaan penting antara petualangan batin yang terjadi secara alamiah (biasanya dipicu oleh krisi atau situasi batas) dengan petualangan batin yang dilakukan secara sadar dan sengaja dalam filsafat. Filsafat tidak menunggu krisis. Bahkan, berfilsafat justru melahirkan krisis, karena banyak hal yang kita kira sudah pasti benar setalah diperiksa lebih jauh, ternyata belum tentu kebenarannya. Keyakinan yang tadinya terasa kukuh bisa dimulai retak.

Benar-salah atau mendalam-dangkal?

Salah satu poin paling penting dalam kuliah ini adalah penolakan Prof. Bambang terhadap cara menilai pandangan hidup semata-mata dengan kategoru "benar" atau "salah". Dalam filsafat, pertanyaan yang lebih tepat seringkali bukan apakah ini benar? Melainkan seberapa dalam pandangan ini?

Ia menggunakan contoh yang sederhana namun mengena. Dulu orang percaya bumi itu datar dan itu masuk akal dari perspektif mereka yang terbatas belum ada alat-alat canggih seperti sekarang. Ketika Copernicus dan Galileo mengatakan bum mengelilingi matahari, mereka dianggap gila. Tapi "kegilaan" itu ternyata adalah sebuah perspektif yang lebih luas, lebih dalam, lebih akurat. Bumi datar bukan sepenuhnya salah dari sudut perspektif terbatas manusia yang berjalan di atas permukaannya, tapi ia dangkal secara saintifik.

Demikian pula dengan penilaian atas kebudayaan orang lain. Kebiasaan saling merunduk dalam budaya Jepang yang bag sebagian orang Barat terasa dingin dan kaku, bisa dilihat sebagai ekspresi hormat yang dalam. Tradisi alon-alon waton kelakon yang dalam budaya modern sering diejek sebagai kemalasan, oleh para pemerhati budaya Jawa justru dilihat sebagai kearifan tentang kesabaran dan kebijaksanaan proses. Hampir segala hal bisa dibolak-balik tergantung dari kedalaman sudut pandang yang digunakan.

Maka filsafat tidak mengajari kita mana yang benar dan mana yang salah secara dogmatis, melainkan mengajari kita untuk melihat lebih jauh, lebih luas, dan lebih dalam dari biasanya.

Tiga fungsi membaca dalam filsafat

Dalam tradisi filsafat akademis Barat, petulangan batin itu tidak dilakukan hanya melalui pengalaman hidup langsung, melainkan juga dan terutama melalui literatur. Membaca buku-buku filsafat bukan sekedar kegiatan intelektual. Prof. Bambang mengidentifikasi tiga dimensi petinginya. Pertama sebagai fungsi informatif, yang paling jelas dengan membaca membuat kita tahu. Kita jadi mengenal pemikiran Aristoteles, Plato, Nietzsche, Heidegger, dan ribuan filsuf lainnya. Ini adalah modal pengetahuan yang tidak bisa diabaikan.

Kedua fungsi formatif, yang lebih penting dan sering luput dari perhatian. Ketika kita membaca buku filsafat yang tebal dan berat, kita tidak hanya menyerap isinya, namun juga membiarkan pola berpikir kita dibentuk ulang. Mengikuti alru argumentasi yang panjang, berliku, dan ketat melatih otak untuk berpikir runtut, sistematis, dan sabar terhadap kerumitan. Semakin banyak membaca, semakin kuat kemampuan berargumentasi, semakin tajam kemampuan analisis.

Fungsi formatif ini harus dibarengi dengan kemampuan menulis. Menulis dalam filsafat bukan sekedar menuangkan pikiran, namun ia adalah proses menata argumentasi, menemukan inkonsistensi dalam pemikiran sendiri, dan memaksa pikiran menjadi lebih jernih. Seseorang tidak akan bisa menulis dengan baik tanpa membaca dengan serius.

Ketiga fungsi kontemplatif, ini dimensi yang paling tersembunyi namun paling mendalam. Membaca adalah aktivitas berhadap-hadapan dengan diri sendiri. Tulisan-tulisan para filsuf pada akhirnya bukan hanya mengisi kepala kita dengan ide-ide mereka, melainkan menjadi cermin untuk menemukan pikiran kita sendiri. Melalui Plato, Heidegger, dan Nietzsche yang sebetulnya sedang kita temukan adalah diri kita sendiri, cara kita memandang hidup, apa yang kita yakini, dan apa yang sesungguhnya kita cari. Inilah yang dimaksud dengan aspek kontemplatif, yaitu membaca sebagai perjalanan ke dalam diri sendiri.

Mengapa nalar diistimewakan dalam filsafat?

Prof. Bambang membuka diskusi yang jujur tentang pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa penalaran verbal-diskursif mendapat tempat yang begitu istimewa dalam filsafat, dibanding intuisi, perasaan, atau imajinasi?

Jawabannya bermuara pada satu kata, kejelasan. Nalar, karena bekerja melalui bahasa dan konsep, memiliki kemampuan untuk mempersempit dan mempertegas makna. Nalar mampu mengubah imaji yang ambigu menjadi konsep yang bisa dikomunikasikan.

Namun Prof. Bambang mengakui bahwa nalar bukan satu-satunya jalan. Imajinasi mempunyai kekuatan penjelajahan yang luar biasa, inilah yang membuat karya seni begitu kaya dan terbuka terhadap banyak tafsiran. Perasaan memiliki kedalamannya sendiri yang tidak selalu bisa dirumuskan. Semuanya punya perannya masing-masing. Nalar adalah alat kejelasan, bukan satu-satunya pintu menuju kebenaran.

Kritik atas budaya berpikir di Indonesia

Salah satu bagian yang paling menggugah dan sekaligus paling pedas dalam kuliah ini adalah refleksi Prof. Bambang tentang mengapa individu-individu di negara-negara maju tampak begitu kuat dan mandiri pemikirannya, berbanding terbalik dengan Indonesia.

Jawabannya, menurut Prof. Bambang, sangat erat kaitannya dengan budaya membaca. Di negara-negara dengan tradisi baca-tulis yang kuat seperti Jepang atau negara-negara Eropa, bahkan tukang kayu pun bisa punya pendapat yang tajam dan khas ketika ditanya tentang sesuatu. Sementara di Indonesia, individu masih terlampau dibentuk oleh sekelilingnya seperti oleh pergaulan, oleh konvensi, oleh tekanan sosial.

Ia memberikan contoh yang mengejutkan namun menarik seperti para selebritis atau juri asing seperti Nicki Minaj atau Jennifer Lopez, yang kerap dipandang hanya sebagai objek hiburan, ternyata ketika berbicara sebagai juri dalam kompetisi menunjukkan ketajaman kritik yang berbobot. Bandingkan dengan banyak juri atau pemusik Indonesia yang ketika harus memberikan penilaian, jawabannya dangkal dan tidak berisi. Bukan karena mereka tidak berbakat, tetapi karena individunya tidak terbentuk oleh tradisi membaca dan berargumentasi.

Budaya audiovisual yang menggantikan budaya membaca sebelum budaya membaca itu sempat berakar adalah masalah serius. Tontonan memang mengasyikkan, tapi ia tidak melatih penalaran yang runtut. Yang diperlukan Indonesia adalah individu-individu yang kuat dan itu hanya bisa terbentuk melalui kebiasaan membaca, berdebat, dan merumuskan pendapat sendiri.

Batas dalam bernalar

Di ujung kuliah ini, Prof. Bambang menyentuh pertanyaan yang sangat dalam: apakah filsafat cukup untuk mencapai hal-hal yang paling hakiki dalam hidup?

Jawabannya, tidak sepenuhnya. Filsafat dengan penalaran verbalnya memang bisa membawa kita sangat jauh. Tapi pada titik tertentu, nalar diskursif akan mentok. Bukan karena lemah, tapi karena wilayah yang ingin dicapai memang bukan wilayah verbal. Pengalaman mistik, pencerahan spiritual, kontak dengan dimensi transendental itu bukan soal pengetahuan, melainkan soal pengalaman langsung.

Tradisi Zen Buddhism memahami hal ini dengan cara yang unik. Koan atau teka-teki seperti "Bagaimana wajahmu sebelum kau lahir?" atau "Apa bunyi tepukan sebelah tangan?" bukan untuk dijawab secara logis. Ia justru dirancang untuk membuat penalaran verbal kelelahan dan menyerah, agar kesadaran bisa memasuki wilayah yang lebih dalam yang tidak bisa dicapai hanya dengan berpikir.

Bambang menegaskan bahwa ia sendiri tidak bisa mengklaim kompeten dalam pengalaman mistik hanya karena ia bisa menjelaskannya secara akademis. Pengalaman adalah pengalaman, bukan pengetahuan tentang pengalaman. Untuk mencapai kedalaman yang sejati, orang harus berguru dengan sungguh-sungguh kepada mereka yang sudah melalui perjalanan itu.

Namun justru karena itulah filsafat penting sebagai pondasi dan persiapan, bukan sebagai tujuan akhir. Filsafat membentuk nalar, memperluas perspektif, mempertajam kepekaan terhadap makna. Dan dari sana, perjalanan bisa dilanjutkan ke wilayah yang nalar sendiri tidak mampu menjangkaunya.

Penutup

Prof. Bambang menutup dengan sebuah ilustrasi yang indah. Seseorang yang tidak pernah ke mana-mana bisa berkata, "Indonesia itu indah." Seseorang yang sudah keliling dunia, tinggal di berbagai negara, mengalami berbagai peradaban, lalu kembali dan berkata, "Gila, Indonesia itu memang keren" pernyataannya terdengar sama. Tapi isinya jauh berbeda. Yang pertama adalah narasi dangkal yang belum diuji. Yang kedua adalah kesimpulan dari perjalanan panjang yang kaya.

Demikian pula dalam filsafat dan kehidupan batin. Orang bisa mengucapkan "Ada Tuhan" tanpa pernah bergelut dengan pertanyaan itu. Dan orang seperti Nietzsche atau Freud, setelah penjelajahan intelektual dan eksistensial yang panjang dan menyakitkan, bisa sampai pada kesimpulan yang secara verbal terdengar sama tapi bobotnya tak terbandingkan.

Filsafat bukan tentang menjadi orang yang tahu banyak. Filsafat adalah tentang menjadi orang yang berpikir lebih dalam dan melalui kedalaman itu, menemukan siapa dirinya sesungguhnya.

Sumber

  • Perkuliahan Pengantar Filsafat 3 oleh Prof. Bambang Sugiharto

Daftar isi

Artikel terkait

Dibuat pelan-pelan dengan rasa hangat dari Kuningan.

© 2026 Rifky Haekal Al-Fadillah