13 Mei 2026
•
10 menit baca
Catatan Pengantar Filsafat 1: Dari Rasa Penasaran sampai Misteri Kehidupan (Prof. Bambang Sugiharto)
Sebuah catatan dan refleksi dari perkuliahan Pengantar Filsafat 1 dari Prof. Bambang Sugiharto dan bagaimana saya melihat irisan pemrograman dengan filsafat.
Programmer adalah pemecah masalah
Ketika pertama kali mendengar kata filsafat, banyak orang mungkin langsung membayangkan sesuatu yang berat, rumit, penuh istilah asing, bahkan terasa seperti wilayah yang tabu untuk disentuh. Seolah filsafat hanya milik para pemikir besar di ruang diskusi yang jauh dari kehiduapn sehari-hari. Namun, justru dari dunia yang sangat teknis seperti pemrograman, filsafat terasa menjadi sesuatu yang dekat dan relevan.
Sebab pada dasarnya, pemrograman bukan hanya tentang menulis kode. Pemrograman adalah tentang menyelesaikan masalah secara logis dan sistematis. Membuat aplikasi tidak benar-benar selesai ketika berhasil dijalankan. Setelah dipakai pengguna, akan selalu ada bug yang muncul, kebutuhan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya, performa yang harus ditingkatkan, hingga pengalaman pengguna yang perlu diperbaiki. Seorang programmer hidup di dalam siklus pemecahan masalah yang tidak pernah benar-benar berakhir. Menariknya, pola itu ternyata sangat mirip dengan kehidupan manusia.
Jika kemampuan berpikir hanya digunakan untuk menyelesaikan error dalam kode, bukankah itu terasa sayang? Hidup sendiri penduh degnan konflik, kebingungan, ketidakpastian, rasa kehilangan, pertanyaan tentang tujuan, bahkan pertanyaan tentang diri sendiri. Di titik itulah filsafat terasa seperti perluasan alami dari cara berpikir seorang programmer.
Jika coding adalah upaya memrogram aplikasi untuk menyelesaikan masalah, maka filsafat bisa dipandang sebagai upaya memrogram cara berpikir untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Kedua-duanya sama-sama membutuhkan logika, refleksi, pengujian asumsi, sistematika, keberanian untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru, dan mempertanyakan sesuatu sampai ke akarnya.
Memulai dengan rasa ingin tahu seorang anak kecil
Salah satu sumber yang menarik untuk mempelajari filsafat bagi orang awam adalah rekaman kuliah Pengantar Filsafat dari Prof. Bambang Sugiharto. Banyak penjelasan beliau yang terasa seperti membuka, mengaduk-ngaduk, sekaligus mempertajam cara berpikir.
Ketika masih kecil, manusia memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Anak kecil hampir selalu bertanya kenapa? seperti contoh percakapan ibu dan anak di bawah ini, dimulai dari anak yang bertanya lalu bergantian ibunya yang menjawab.
"Kenapa harus makan?"
"Supaya sehat."
"Kenapa harus sehat?"
"Supaya bisa sekolah."
"Kenapa harus sekolah?"
"Supaya pintar."
"Kenapa harus pintar?"
"Supaya bisa bekerja, supaya punya uang yang banyak."
"Kenapa harus punya uang yang banyak?"
"Supaya bahagia bisa beli apapun yang dimau."
Lalu sang anak menjawab, "Sekarang tanpa uang juga sudah bahagia kok, berarti aku ga harus bekerja."
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kelihatannya polos dan menyebalkan itu, sebenarnya adalah filsafat dalam bentuknya yang paling murni. Anak kecil itu sedang menggali sampai ke akar, tidak mau puas dengan jawaban yang hanya menutup percakapan. Itulah yang dalam filsafat disebut berpikir secara radikal, namun bukan dalam arti ekstrem atau anarkis, tapi dalam arti menelusuri sampai ke dasar yang paling dalam.
Menariknya, pola ini sangat mirip dengan debugging dalam pemrograman. Ketika aplikasi error, programmer tidak berhenti hanya karena mengetahui gejalanya. Seorang programmer akan terus bertanya:
"Kenapa endpoint ini gagal?
"Kenapa datanya null?"
"Kenapa request timeout?"
"Kenapa query lambat?"
"Kenapa error atau logic ini tidak terpikirkan sebelumnya?"
Debugging sejatinya adalah aktivitas filosofis, mempertanyakan asumsi sampai menemukan akar masalah sebenarnya. Bahkan konsep dalam merancang arsitektur source code dalam software development memiliki semangat yang mirip dengan filsafat. Keduanya sama-sama mencari struktur paling fundamental di balik sesuatu yang kompleks. Dalam coding ada usaha memisahkan concern, memahami dependency, dan mencari inti sistem. Dalam filsafat, manusia mencoba memahami inti, realitas, inti makna, dan inti keberadaan.
Rasa ingin tahu yang perlahan hilang
Seiring bertambahnya usia, rasa ingin tahu itu perlahan memudar. Manusia mulai takut dianggap aneh atau bodoh jika terlalu banyak bertanya. Rutinitas semakin padat, pikiran dipenuhi pekerjaan, target, cicilan, tanggung jawab, dan tekanan hidup. Hari demi hari dijalani secara otomatis, dari pagi ke malam, dari Senin ke Minggu.
Padahal sering kali ada pertanyaan yang diam-diam menumpuk di dalam diri, menimbulkan rasa kosong, kehilangan arah, kecemasan, atau kelelahan jika tidak dipahami sumber jawabannya. Ketika hidup tidak pernah direfleksikan, ada utang batin yang perlahan menumpuk tanpa disadari.
Boundary situation: Ketika hidup menampar kita
Namun pada titik tertentu, hidup biasanya memaksa manusia berhenti. Karl Jaspers menyebut momen seperti ini sebagai Boundary Situation atau situasi ambang batas. Pengalaman yang mengguncang manusia hingga hidup terasa runtuh. Misalnya ketika tiba-tiba kehilangan seseorang yang disayangi, dikhianati, gagal, merasa hampa di tengah hidup yang baik-baik saja, atau menyadari sesuatu yang selama ini dianggap pasti ternyata bisa hilang dalam sekejap. Di titik seperti itu, pertanyaan-pertanyaan besar muncul kembali.
Menurut penjelasan Prof. Bambang, pertanyaan seperti itu disebut Ultimate Questions, pertanyaan pamungkas yang mungkin memang tidak pernah memiliki jawaban final. Sekali lagi, dunia pemrograman terasa sangat dekat dengan hal itu. Sering kali seorang programmer merasa sudah membuat sistem paling sempurna, semua test berhasil dan semua fitur berjalan. Tidak ada error di local environment. Namun ketika aplikasi dibakai banyak pengguna di dunia nyata, bug aneh mulai bermunculan.
Ternyata sistem yang terlihat sempurna memiliki tetap memiliki kemungkinan gagal. Semakin besar sistem, semakin mustahil menghilangkan error sepenuhnya. Tujuan pemrograman pada akhirnya bukan menciptakan sistem tanpa error, tetapi meminimalisir error dan membuat sistem cukup tangguh menghadapi ketidakpastian (error handling).
Bukankah manusia juga seperti itu? Mungkin hidup bukan tentang menjadi sempurna dan bebas masalah sama sekali, tetapi tentang menjadi cukup kuat untuk terus memperbaiki diri di tengah ketidaksempurnaan.
Filsafat bukan mesin penjawab
Di sinilah filsafat menjadi menarik. Filsafat bukan mesin otomatis yang memproduksi jawaban final untuk setiap persoalan. Ia lebih mirip seperti teman diskusi yang berkata: "Pertanyaanmu valid. Mari kita telusuri bersama." Contohnya adalah tentang kebahagiaan. Banyak orang menganggap kebahagiaan sebagai tujuan akhir, sesuatu yang harus diperjuangkan dan baru bisa diraih setelah sukses. Namun ada juga sebenarnya pandangan bahwa kebahagiaan justru adalah titik awal. Bahagia bukan hadiah di ujung perjalanan, tatapi cara menjalani perjalanan itu sendiri.
Jika kebahagiaan adalah sebab, maka makan makanan yang sederhana pun terasa cukup. Mengenakan pakaian biasa yang tidak bermerek pun bisa terasa nyaman. Hidup tidak harus menunggu untuk bisa dinikmati. Lalu mana yang benar? Mungkin keduanya benar. Mungkin juga keduanya salah. Atau mungkin jawabannya bergantung pada kondisi manusia masing-masing. Kebahagiaan yang selama ini kita anggap definisinya seperti penjelasan yang pertama, ternyata tidak juga, ada definisi lain bahkan barangkali kita belum menemukan definisi kebahagiaan yang sebenarnya. Tidak semua hal dan masalah memiliki satu jawaban dan solusi absolut.
Pernyataan-pernyataan ini, sekilas saja sudah menunjukkan kejanggalan karena justru filsafat seolah-olah bikin hal jadi rumit. Jadi untuk apa berpikir hal-hal seperti itu. Tapi, justru itu adalah kekuatan dari filsafat, kita tidak dipaksa untuk memilih satu jawaban dan menutup mata terhadap jawaban yang lain. Ia justru mengajak kita melihat bahwa hidup lebih luas dari sekedar pilihan benar atau salah, hitam atau putih.
Perspektif tentang orang lain
Jean-Paul Sartre pernah mengatakan bahwa "orang lain adalah neraka". Kehadiran orang lain membuat manusia merasa selalu diawasi, dihakimi, dan membatasi kebebasan. Kedengarannya menyeramkan, tapi kalau dipikir lagi, sebagian besar orang pernah merasakannya. Tapi di sisi lain, ada filsuf bernama Emmanuel Levinas yang justru melihat wajah orang lain sebagai sesuatu yang suci, sebuah panggilan untuk keluar dari egoisme diri sendiri. Bagaimana justru kritik dari orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh diri sendiri yang pada akhirnya kita mengetahui hal itu karena dikritik. Dalam kehidupan, mungkin manusia tidak pernah benar-benar bisa hidup sendirian.
Dua pandangan yang sangat bertolak belakang, tapi keduanya terasa benar juga tergantung dari apa dan dalam situasi apa kita menghadapinya. Filsafat tidak menyelesaikan ketegangan itu. Justru mengajarkan kita untuk hidup di tengah ketegangan itu dengan lebih sadar, terbuka, sabar, dan lebih lapang.
Filsafat dan keimanan
Ada stereotipe lama bahwa belajar filsafat bisa membuat seseorang kehilangan iman. Namun, menurut Prof. Bambang sejarah justru menunjukkan sebaliknya. Dalam sejarah panjang pemikiran manusia, filsafat sering dianggap sebagai pelayan bagi teologi. Krisis atau situasi ambang batas adalah bagian dari proses pendewasaan, perlu dilalui supaya bisa benar-benar tumbuh atau lebih baik. Filsafat mengajarkan bahwa keyakinan yang belum pernah diuji adalah keyakinan yang masih rapuh.
Misalnya hukum haram memakan daging babi yang bisa menjadi diperbolehkan dalam kondisi darurat demi mempertahankan hidup. Artinya, bahkan agama pun memahami kompleksitas realitas manusia. Akan ada keindahan yang luar biasa dalam iman yang sudah melewati ujian dan tetap memilih untuk percaya. Filsafat membantu iman tidak terhenti di permukaan, untuk sekedar jadi daftar boleh atau tidak boleh.
Selain itu, pengalaman-pengalaman ambang batas itu justru membuat kita belajar bahwa pengalaman seperti itu bukan berarti iman kita salah, melainkan iman kita sedang tumbuh. Kebijaksanaan sering kali lahir bukan dari kepatuhan buta terhadap aturan, tetapi dari kemampuan memahami konteks.
Filsafat itu ibarat bahasa pemrograman, sedangkan agama adalah framework. Bahasa pemrograman memberi manusia kemampuan untuk berpikir, menyusun logika, memahami struktur, dan membangun sesuatu dari dasar. Ia fleksibel, luas, dan bisa digunakan untuk banyak pendekatan berbeda. Namun, karena terlalu luas, seseorang bisa kebingungan menentukan arah jika hanya mengandalkan bahasa pemrograman semata. Di situlah framework hadir, framework bukan sekadar membatasi, tetapi memberi pola, arah, prinsip, dan fondasi agar sesuatu bisa dibangun dengan lebih terstruktur, aman, dan konsisten. Framework membantu manusia agar tidak perlu selalu memulai semuanya dari nol.
Kurang lebih seperti itu hubungan filsafat dan agama. Filsafat melatih manusia berpikir, mempertanyakan, menganalisis, dan menggali sampai ke akar persoalan. Ia membantu manusia memahami bagaimana cara menggunakan akalnya. Namun filsafat sendiri sering membuka terlalu banyak kemungkinan. Pertanyaan demi pertanyaan bisa terus bercabang tanpa akhir. Sedangkan agama hadir membawa kerangka yang lebih kokoh: nilai, tujuan, batas, dan arah hidup. Ia bukan mematikan akal, melainkan memberi orientasi agar akal tidak kehilangan tujuan. Menariknya, seperti framework dalam pemrograman, agama pun tetap membutuhkan pemahaman yang benar. Seseorang bisa saja memakai framework tanpa memahami bahasa pemrogramannya, lalu akhirnya hanya menjadi “copy-paste developer” yang tahu cara memakai tetapi tidak benar-benar memahami kenapa semuanya bekerja seperti itu. Begitu juga dalam kehidupan. Ada orang yang menjalankan agama sebatas rutinitas tanpa pernah benar-benar merenungkan makna di baliknya. Sebaliknya, ada juga yang hanya mengandalkan “bahasa pemrograman”-nya saja tanpa framework. Logikanya mungkin tajam, tetapi arah hidupnya bisa terus berubah-ubah karena tidak memiliki fondasi nilai yang menetap.
Hidup yang tidak dikaji adalah hidup yang tidak layak dijalani
Di penghujung kuliahnya, Prof. Bambang mengutip Socrates: Hidup yang tidak dikaji adalah hidup yang tidak layak dijalani. Bukan berarti kita harus jadi filsuf profesional untuk hidup yang bermakna. Tapi ada sesuatu yang berbeda ketika kita memilih untuk tidak membiarkan pertanyaan-pertanyaan besar itu terkubur begitu saja.
Filsafat bukan sesuatu yang jauh atau ekslusif, tapi sesuatu yang manusiawi, semanusiawi rasa penasaran anak kecil yang belum belajar untuk berhenti bertanya pada orang tuanya. Mungkin karena pada akhirnya, ada hal yang cukup mendasar bahwa setiap masalah layak dipahami lebih dalam, meskipun jawabannya mungkin tidak pernah benar-benar final.
Seperti itulah kuliah pertama berakhir, rencana selanjutnya akan ada seri artikel yang berisikan catatan lainnya tentang perkuliahan beliau. Rekaman aslinya bisa ditonton di YouTube channel Pustaka Matahari yang ada pada sumber di bawah.
Daftar isi
- Programmer adalah pemecah masalah
- Memulai dengan rasa ingin tahu seorang anak kecil
- Rasa ingin tahu yang perlahan hilang
- Boundary situation: Ketika hidup menampar kita
- Filsafat bukan mesin penjawab
- Perspektif tentang orang lain
- Filsafat dan keimanan
- Hidup yang tidak dikaji adalah hidup yang tidak layak dijalani
- Sumber
Artikel terkait
22 Mei 2026
•
15 menit baca
Catatan Pengantar Filsafat 2: Filsafat, Agama, dan Kehidupan (Prof. Bambang Sugiharto)
Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Pengantar Filsafat seri kedua bersama Prof. Bambang Sugiharto.
25 Mei 2026
•
15 menit baca
Catatan Pengantar Filsafat 3: Seni Hidup Filosofis (Prof. Bambang Sugiharto)
Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Pengantar Filsafat seri ketiga bersama Prof. Bambang Sugiharto.