11 Juni 2026
•
15 menit baca
Catatan Pengantar Filsafat 6: Membaca, Berpikir, dan Menemukan Kesatuan dalam Filsafat (Prof. Bambang Sugiharto)
Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Pengantar Filsafat seri keenam (terakhir) bersama Prof. Bambang Sugiharto.
Budaya baca dan tulis membuat peradaban menjadi kuat
Pada kuliah ini Prof. Bambang mengajak untuk membaca teks dari selembaran yang ia berikan, karena belajar filsafat berarti membaca teks, bukan hanya mendengarkan kuliah atau ceramah. Hanya melalui teks, nalar kita benar-benar diuji, dibentuk, dan ditarik ke kedalaman berpikir.
Implikasi selanjutnya setelah mempunyai kebiasaan membaca adalah menulis. Kekuatan peradaban Barat dalam ilmu pengetahuan bukan terutama karena mereka penemu aslinya, melainkan karena mereka mengembangkan melalui budaya tulis yang kuat.
Ilmu matematika berasal dari India dan Arab yang dari sana muncul yang kita kenal sebagai Aljabar. Lalu ada Piramida Mesir yang menjadi bukti ilmu arsitektur dan teknik yang luar biasa canggih sudah ada pada saat itu. Ada juga Cina yang menyimpan banyak khazanah pengetahuan dari filsafat, obat-obatan, dan juga matematika. Tapi, semua itu sebagian besar hidup dalam tradisi lisan, dari mulut ke mulut, dari guru ke murid. Ketika seorang guru meninggal, sebagian ilmu ikut lenyap bersamanya.
Keunggulan dunia Barat adalah pewacanaan tertulis, kemampuan menuliskan pemikiran hingga bisa dianalisis, dikritik, dikembangkan, dan diwariskan tanpa bergantung pada satu orang. Buku memungkinkan penalaran yang panjang dan dalam, karena pembaca bisa kembali ke halaman sebelumnya, membandingkan argumen, menemukan kontradiksi, dan membangun di atas apa yang sudah ada. Sebaliknya, tradisi lisan tidak bisa melakukan itu.
Kecerdasan itu tidak ada batasnya
Implikasi selanjutnya dari budaya baca dan tulis adalah meningkatnya kecerdasan. Ada satu mitos yang banyak dipercaya luas, bahwa kecerdasan sudah terbentuk final pada usia 18 tahun, dan setelah itu otak tidak berkembang lagi. Mitos tersebut tidak benar.
Kecerdasan secara neurologis adalah tentang sinapsis atau sambungan-sambungan antara sel-sel saraf di otak. Otak manusia memiliki sekitar 100 miliar sel saraf, dan setiap sel memiliki ujung-ujung yang disebut dendrit dan akson. Ketika dendrit satu sel tersambung ke akson sel lain, maka terjadilah sambungan baru. Kecerdasan ternyata bukan soal berapa banyak sel yang kamu punya, melainkan seberapa banyak dan seberapa beragam sambungan yang terbentuk. Dan proses tersebut tanpa batas usia akan terus bisa tumbuh.
Membaca, berdiskusi, menonton, bahkan berselancar internet atau media sosial ternyata semua itu merangsang pembentukan sinapsis baru. Setiap kali kita memahami sesuatu yang sebelumnya tidak kita mengerti, secara fisik terjadi sambungan baru di otak kita. Dari situlah lahir definisi kreativitas yang menarik. Kreatif adalah kemampuan melihat keterkaitan antara hal-hal yang tampaknya tidak terkait. Hal-hal tidak terkait ini istilah teknisnya adalah bisosiatif bukan asosiatif keterkaitan yang memiliki sambungan yang sudah jelas seperti gelas-air-minum. Seperti bagaimana Newton dari melihat apel jatuh dan tiba-tiba terhubung ke hukum gravitasi. Seperti Archimedes dari mandi dan tiba-tiba terhubung ke prinsip berat jenis. Justru itulah yang disebut jenius, kemampuan menyambungkan yang tampaknya tak tersambung.
Mungkin sampai di sini kita akan berpikir bahwa pusat kecerdasan manusia itu ada di otak. Namun, jika kita sadari pada mulanya kita hanyalah sebuah sel yang berada di dalam perut ibu kita, lalu sel itu terus membelah dan memperbanyak diri hingga menjadi jaringan, lalu organ, lalu menjadi sistem pencernaan, pernapasan, peredaran darah, dan lainnya, hingga kita menjadi satu manusia yang utuh. Sel-sel itu juga yang membentuk otak kita. Hakikatnya yang cerdas itu sebenarnya sel kita, otak itu adalah sebuah prosesor yang menjadi koordinator dari setiap bagian yang ada pada tubuh kita.
Membaca teks Upanisad filsafat dari India
Teks yang dibaca bersama dalam kuliah ini adalah kutipan dari Upanisad, salah satu kitab suci tradisi Hindu di India yang konon berasal dari abad ke-10 sebelum masehi, jauh lebih tua dari filsafat Yunani yang baru muncul sekitar abad ke-6 SM. Artinya, teks ini ditulis sekitar 3.000 tahun yang lalu dan pemikirannya seperti yang akan terlihat, sama sekali tidak primitif.
Upanisad berbicara tentang pertanyaan-pertanyaan paling mendasar seperti: Apa itu kebebasan? Apa itu kebahagiaan? Apa itu hakikat realitas? Siapa atau apa yang absolut? Dalam kerangka berpikir India, realitas yang paling absolut itu disebut Brahman, yang biasa kita ketahui sebagai Tuhan.
Teks dimulai dengan sebuah kisah, seorang anak bernama Shvetaketu, pada usia 12 tahun dikirim oleh ayahnya Udalaka untuk belajar. Shvetaketu pun pergi selama 12 tahun penuh, ia belajar dengan tekun dan berhasil menghafal Weda, mempelajari ritual, dan menguasai teks-teks suci. Pada usia 24 tahun ia pulang, justru di sinilah sang ayah memperhatikan putranya yang baru pulang itu merasa khawatir. Bukan kesia-siaan belajar selama 12 tahun, namun kesombongan seorang pelajar yang merasa sudah menguasai segalanya. Wajah Shvetaketu memancarkan kebanggaan menunjukkan bahwa ia merasa dirinya sudah terdidik, sudah tuntas, dan sudah selesai belajar.
Lalu Udalaka bertanya: "Shvetaketu, sudahkah kamu mendapatkan pengetahuan tentang sesuatu yang tak bisa didengar, yang tak bisa ditangkap, yang bahkan tak bisa diketahui?"
Shvetaketu terdiam, ia bahkan tak mengerti. Guru-gurunya yang terhormat tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Dengan jujur ia berkata: "Pengetahuan macam apa itu, Ayah?" Guru-guruku pasti sudah mengajarkannya kepadaku seandainya mereka mengetahuinya. Kalau mereka tahu dan tidak mengajarkannya kepadaku, berarti aku tidak layak. Tapi aku yakin mereka tidak tahu. Bisakah Ayah mengajarkannya kepadaku?
Sang ayah menjawab dengan perumpamaan: "Jika kamu memahami hakikat tanah liat, maka semua benda yang terbuat dari tanah liat seperti pot, gentong, dan jambangan sudah kamu pahami. Bedanya hanya pada nama dan bentuk, tapi isinya tetap sama yaitu tanah liat. Demikian pula emas bisa dibuat menjadi cincin, gelang, dan kalung semuanya adalah variasi nama dan bentuk dari emas, tapi hakikatnya satu yaitu emas."
Lalu Udalaka memberikan beberapa pelajaran kepada Shvetaketu. Pelajaran pertama, Udalaka berkata: "Ada yang mengatakan bahwa pada awalnya segala sesuatu ini berasal dari yang tiada."
Tapi Udalaka menolak pandangan itu.
"Tidak mungkin, anakku. Bagaimana sesuatu yang ada bisa lahir dari yang tidak ada? Pada awalnya hanya ada eksistensi, ada itu sendiri. Satu. Tanpa duanya. Tidak ada yang lain."
Maksudnya adalah bukan dari ketiadaan semuanya berasal. Melainkan dari keberadaan yang tunggal, satu eksistensi absolut yang tidak memiliki tandingan atau pasangan. Itulah asal muasal segalanya. Lalu apa yang terjadi kemudian? Yang satu itu berpikir dalam dirinya sendiri: Biarlah aku menjadi banyak. Maka dari yang satu itu terpancarlah alam semesta yang ada ini. Dan setelah memproyeksikan semuanya keluar dari dirinya, Ia masuk ke dalam setiap makhluk, setiap benda, setiap hal yang ada.
Pernyataan ini menjelaskan bahwa Tuhan bukan hanya menciptakan alam semesta dari luar, lalu mundur dan menonton. Namun, Ia masuk ke dalamnya dan hadir dalam setiap hal. Maka esensi dari semua yang ada, dari batu, air, pohon, binatang, manusia adalah Ia yang absolut itu.
Pelajaran kedua, Shvetaketu masih belum sepenuhnya menangkap. Ia meminta sang ayah melanjutkan. Udalaka lalu mengambil sebuah perumpamaan. Ia berkata:
"Lihatlah lebah, anakku. Lebah-lebah itu terbang ke sana-sini, mengumpulkan nektar dari bunga yang berbeda-beda. Dari bunga melati, mawar, dan dari bunga hutan yang tidak kita kenal namanya. Setiap tetes nektar itu berbeda asalnya, berbeda aromanya, berbeda rasanya. Tapi ketika semua nektar itu berkumpul dan menjadi madu, coba tunjukkan padaku mana yang dari bunga melati? Mana yang dari bunga mawar? Mana yang dari bunga hutan? Tidak bisa. Semuanya sudah menyatu. Semuanya sudah menjadi satu madu yang tidak bisa dipisahkan lagi. Dan madu itu pun tidak tahu dia berasal dari bunga yang ini. Ia sudah lupa. Ia sudah menjadi sesuatu yang baru menjadi satu."
Percakapan ini menjelaskan bahwa semua makhluk ketika kembali ke dalam eksistensi yang absolut itu mereka tidak lagi tahu siapa mereka sebelumnya. Analoginya seperti ketika kita tidur, kita kehilangan kesadaran atas diri kita secara sementara dan dalam konteks ini karena ketika kita sedang tidur berarti kita sedang kembali ke eksistensi yang absolut itu. Begitu juga dengan kematian, dalam konteks ini berarti secara sepenuhnya kita kembali kepada eksistensi yang absolut itu sehingga kita secara sepenuhnya juga tidak mengetahui lagi berasal dari mana, seperti madu yang dikumpulkan oleh lebah.
Pelajaran ketiga, Shvetaketu meminta lagi dan Udalaka melanjutkan:
"Perhatikan sungai-sungai, mereka mengalir menuju laut. Sungai yang di timur atau pun yang di barat. Dari berbagai arah dan sumber semua sungai akan mengalir ke laut. Di dalam laut, apakah sungai-sungai itu masih tahu ia berasal dari Sungai Gangga, dari Sungai Indus, atau berasal dari pegunungan? Tidak. Mereka semua sudah menyatu. Sudah menjadi laut."
"Lalu dari laut itu air menguap, naik menjadi awan, turun sebagai hujan, mengalir kembali menjadi sungai-sungai. Siklus itu terus berulang. Tapi dalam setiap putaran, sungai tidak pernah mengingat bahwa ia pernah menjadi laut, pernah menjadi awan, pernah menjadi hujan."
Maknanya sama, semua makhluk berasal dari yang Satu, mengalir melalui berbagai bentuk kehidupan, dan pada akhirnya kembali ke yang Satu tanpa mengingat perjalanannya.
Pelajaran keempat, Shvetaketu meminta lagi dan Udalaka mengambil contoh yang lebih dekat, yang bisa langsung dilihat:
"Bayangkan pohon besar ini. Jika seseorang menebas akarnya dengan kapak, pohon itu akan terluka, tetapi tetap hidup. Jika ia menebas batangnya, pohon itu terluka, tetapi tetap hidup. Jika ia menebas dahannya, cabangnya, bahkan pucuknya pohon itu terluka tetapi tetap berdiri, tetap hidup."
Mengapa? Maknanya adalah karena ada sesuatu di dalam pohon itu, sesuatu yang disebut living self atau esensi kehidupan yang masih tinggal di dalamnya. Selama itu ada, pohon tetap hidup. Tapi bayangkan jika esensi itu pergi dari salah satu cabang, maka cabang itu akan mengering dan mati. Jika ia pergi dari batang, maka batang itu mati. Jika ia pergi dari seluruh pohon maka pohon akan mati. Sama persis dengan tubuh kita, tubuh yang hidup karena ada yang menghidupinya. Ketika self itu pergi dari tubuh, maka tubuh mati. Tapi self itu sendiri tidak mati.
Pelajaran kelima, Udalaka melanjutkan dengan perumpamaan lain:
"Ambilkan buah dari pohon Nyagrodha itu.
Shvetaketu mengambilnya.
"Pecahkanlah."
Dipecah dan di dalamnya ada biji-biji kecil.
"Ambil satu biji. Pecahkan juga biji itu."
Dipecah dan Shvetaketu menatap ke dalamnya.
"Apa yang kamu lihat?"
"Tidak ada apa-apa, Ayah. Kosong."
"Tepat. Dari kekosongan yang tidak bisa kamu lihat itulah pohon Nyagrodha yang besar itu tumbuh. Esensi yang paling dalam dari pohon itu tidak bisa kamu lihat dengan mata. Tidak bisa ditangkap oleh tangan. Tidak bisa dianalisis dengan pikiran."
Maknanya itulah esensi yang sama yang menjadi dasar dari semua yang ada di alam semesta ini. Ia tidak terlihat dan tidak tertangkap, tapi ia nyata. Lebih nyata dari pohon itu sendiri, lebih nyata dari bijinya, bahkan lebih nyata dari apapun yang bisa kita lihat.
Pelajaran keenam, Udalaka melanjutkan:
"Ambil garam ini. Masukkan ke dalam air. Lalu tidurlah, temui aku lagi esok pagi."
Shvetaketu melakukannya. Pagi harinya, Udalaka bertanya: "Ambilkan garamnya."
Shvetaketu mencarinya, namun garamnya tidak ada karena sudah larut dengan air.
"Minumlah airnya dari sisi ini. Apa rasanya?"
"Asin."
"Minumlah dari tengah."
"Asin."
"Minumlah dari sisi yang lain."
"Asin juga, Ayah."
Udalaka berkata: "Garam itu ada di mana-mana di dalam air, tapi tidak bisa kamu lihat. Tidak bisa kamu pegang. Tidak bisa kamu tunjuk. Tapi ia hadir dalam setiap tetes. Ia meresap ke seluruh penjuru air tanpa kecuali."
Maknanya adalah dalam konteks ini Brahman berada di dalam tubuh, di dalam diri, dan di dalam seluruh alam semesta ini. Kita tidak bisa melihatnya, tapi ia ada di sana meresap ke segalanya dan hadir di mana-mana menjadi esensi dari semuanya. Dan cara untuk mengetahuinya bukan dengan melihat, tapi dengan merasakan. Seperti kita merasakan asin di dalam air.
Pelajaran ketujuh, Udalaka memberikan satu perumpamaan lagi, kali ini bukan tentang hakikat Brahman, melainkan tentang bagaimana manusia bisa sampai pada pengetahuan itu. Bayangkan seseorang diculik dari rumahnya, ditutup matanya, dibawa jauh ke tempat yang tidak ia kenal lalu ditinggalkan begitu saja. Ia berjalan dengan mata tertutup, menabrak pohon, tersandung batu, berputar-putar tanpa arah. Ia tidak tahu di mana ia berada dan ke mana harus pergi. Lalu ia memohon kepada siapa pun untuk membuka penutup matanya. Lalu, ada seseorang yang baik hati membuka penutup matanya. Sekarang ia bisa melihat. Tapi, masih tidak tahu jalan. Maka ia berjalan dari kampung ke kampung, bertanya di mana jalan menuju rumahnya. Pelan-pelan dari petunjuk satu ke petunjuk yang lain akhirnya ia menemukan jalannya dan akhirnya ia tiba di rumah.
Demikianlah manusia yang mencari pengetahuan sejati. Awalnya kita buta, dibutakan oleh ketidaktahuan, oleh ilusi, oleh kesibukan yang tidak penting. Kita berjalan tanpa tujuan, tapi ketika kita bertemu dengan guru yang mencerahkan, guru yang mau membuka penutup mata kita maka kita mulai melihat. Kita mulai bertanya. Dari satu pelajaran ke pelajaran lain, dari satu pemahaman ke pemahaman yang lain dan pelan-pelan kita menemukan jalan pulang yang dalam konteks ini pulang ke Brahman, pulang ke esensi kita yang sesungguhnya yang Satu.
Pelajaran terakhir, Udalaka memberikan satu gambaran terakhir, tentang apa yang terjadi pada manusia mendekati kematian. Ketika seseorang sedang sekarat, orang-orang yang dicintainya berkumpul di sekelilingnya. Mereka bertanya: "Apakah kamu masih mengenali aku? Apakah kamu tahu aku?". Dan selama kata-kata orang itu masih menyatu dengan pikirannya, selama pikirannya masih menyatu dengan napasnya, selama napasnya menyatu dengan panas tubuhnya, ia masih mengenali mereka. Ia masih tahu siapa yang ada di depannya. Tapi ketika kata-kata sudah benar-benar menyatu dengan pikiran, lalu pikiran menyatu dengan napas, lalu napas menyatu dengan panas tubuh, dan panas tubuh menyatu dengan Brahman, pada saat itu ia tidak lagi mengenal mereka. Bukan karena pikun, bukan karena ia tidak peduli. Tapi karena ia sudah menyatu kembali dengan sumbernya. Seperti sungai yang sudah menjadi laut tidak tahu lagi bahwa ia pernah menjadi sungai. Seperti madu yang tidak tahu lagi dari bunga mana ia berasal.
Kesimpulan dari seluruh pengajaran Udalaka bermuara pada satu prinsip yang dalam tradisi Hindu menjadi salah satu paling agung dalam sejarah filsafat: Tat Tvam Asi artinya Itu adalah Kamu. Brahman, esensi absolut dari seluruh realitas, bukan sesuatu yang jauh di langit yang harus dicapai. Ia adalah esensi dari dirimu sendiri. The Self yang sesungguhnya bukan ego, bukan nama, bukan tubuh melainkan sesuatu yang sama di dalam semua makhluk, dari nyamuk hingga singa, dari batu hingga manusia.
Ruh itu eksklusif atau universal?
Dari sini Prof. Bambang membawa pengalaman membaca teks tadi untuk menemukan suatu pemikiran baru. Sebagaimana beliau ajarkan bahwa seseorang yang mempelajari khazanah pengetahuan di masa lampau justru yang mampu memandang jauh ke masa depan. Selain itu seperti awal artikel ini dikatakan bahwa orang yang kreatif adalah orang yang mampu menemukan keterkaitan antara hal yang tampaknya tidak saling berkaitan dan kreativitas itu bisa didapatkan salah satunya dari kedalaman berpikir yang kita dapatkan dari membaca.
Prof. Bambang mengajak kelas bermain-main dengan sebuah metafora: Ruh itu eksklusif untuk setiap individu yang letaknya ada di dalam tubuh atau sebenarnya ruh itu bersifat universal dan letaknya di luar tubuh? Jika kita menganggapnya universal, maka kita harus memikirkan dulu: Apa satu hal yang sama yang semua manusia alami atau lakukan? Jawabannya adalah bernapas. Manusia bernapas mengambil udara dari luar tubuh. Udara di dalam ruang kuliah punya karakternya sendiri karena ada bau badan, kapur, kaos kaki, dan lain-lain. Sedangkan udara di dapur beda lagi. Udara di jalan berbau knalpot. Namun, tidak ada batas yang memisahkan udara di ruangan dengan udara di luar, dengan udara di Jakarta, di New York, di London semua udara adalah satu kesatuan. Semua pada akhirnya satu. Udara yang sama dihirup oleh semua orang di seluruh bumi. Bisa jadi ruh mungkin seperti itu, ruh itu justru berada di luar manusia dan bersifat universal alih-alih eksklusif dan di dalam tubuh. Ketika udara dihirup oleh si A, maka udara menjadi ruhnya si A, ia mengambil karakter si A. Ketika udara dihirup oleh si B maka ia menjadi ruhnya si B, ia mengambil karakter si B. Tapi hakikatnya seperti naskah Upanisad yang sudah kita baca pada akhirnya kita adalah satu, dari satu, dan akan kembali lagi kepada satu. Jika Ruh bersifat universal, maka bukan hanya "ruh saya", justru mungkin ruh saya hanya bagian dari ruh yang Maha Luas, seperti udara di ruangan ini adalah bagian dari udara seluruh semesta. Buktinya cukup mengejutkan, ketika kita melihat orang hampir ketabrak mobil dan kamu refleks berteriak, itu bukan sekadar empati sosial. Itu mungkin isyarat bahwa ruhnya dan ruhmu sesungguhnya tidak terpisah. Ketika kamu menyesal setelah menyakiti seseorang, itu mungkin karena orang itu sesungguhnya bagian dari dirimu.
Bagian inilah yang terpenting dari hasil membaca dan mendapatkan kedalaman berpikir, kita bisa menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh kita. Seperti yang sudah pernah dibahas juga, awalnya manusia mendalami ilmu sosial yang sekarang kita kenal IPS, lalu setelah itu mendalami ilmu alam yang kita kenal sebagai IPA, setelah itu manusia justru kembali lagi mendalami dirinya sendiri dengan berkembangnya ilmu psikologi dan neurologi, ke depannya bukan sesuatu yang tidak mungkin manusia akan mencoba mendalami lagi ilmu yang lebih dalam dari sekadar jiwa atau psikologis yaitu mempelajari tentang ruh.
Penutup
Prof. Bambang mengakhiri dengan menjelaskan bahwa segala sesuatu yang melampaui argumen dan teks itu disebut peak experience, pengalaman puncak yang digambarkan oleh psikolog Abraham Maslow sebagai momen di mana seseorang tiba-tiba merasakan bahwa segala sesuatu saling terhubung, bahwa semuanya satu, bahwa dunia ini baik-baik saja meski penuh masalah.
Ini bukan kesimpulan dari penalaran. Ini adalah perasaan, tapi bukan perasaan emosional biasa seperti sedih atau marah. Ini lapisan yang jauh lebih dalam seperti takjub, syukur, dan hormat yang melingkupi seluruh eksistensi, hingga apa yang dalam psikoanalisis disebut perasaan oseanik yaitu perasaan menyatu seperti setetes air yang jatuh ke lautan dan tiba-tiba merasa "ini rumah saya".
Seorang peselancar internasional pernah bercerita, setiap kali ia berhasil menembus gulungan ombak, ia mengalami ekstase, merasa menyatu dengan alam semesta. Ia belum tentu beragama. Tapi ia mengalami apa yang oleh semua tradisi mistik besar seperti unio mystica dalam Kristiani, manunggaling kawulo lan Gusti dalam mistik Jawa, moksha dalam Hindu, dan lain-lain. Selain peselancar, sedikit relevan dengan masa sekarang adalah makin banyak orang yang suka mendaki gunung. Ternyata apa yang dialami oleh para pendaki bukan hanya kepuasan telah mampu menaklukkan gunung yang tinggi, namun lebih dari itu yang membuat mereka terus mendaki adalah perasaan bahwa mereka seperti menyatu kembali dengan alam semesta.
Ternyata hampir semua tradisi agama, dalam bahasa dan metafora yang berbeda-beda, bermuara ke pengalaman yang sama: pada tingkat kesadaran yang paling dalam, semuanya adalah satu. Dan itu bukan hanya doktrin, tapi itu bisa dialami.
Filsafat Upanisad, yang ditulis 3.000 tahun yang lalu di India, rupanya sedang berbicara tentang sesuatu yang universal, sesuatu yang masih bisa dirasakan oleh seorang peselancar atau pendaki di abad ke-21, oleh siapa saja yang pernah berdiri di atas gunung dan tiba-tiba menangis tanpa tahu alasannya. Mungkin karena ia merasa menyatu kembali menjadi satu kesatuan dengan alam dan akhirnya bisa melihat dan merasakan kerusakan dan penderitaan yang gunung alami.
Artikel terkait
13 Mei 2026
•
10 menit baca
Catatan Pengantar Filsafat 1: Dari Rasa Penasaran sampai Misteri Kehidupan (Prof. Bambang Sugiharto)
Sebagai programmer, saya terbiasa memecahkan masalah. Tapi kemudian saya menyadari bahwa filsafat adalah tentang hal yang sama hanya diterapkan pada kehidupan yang lebih luas. Perjalanan dari ngoding menuju filosofi.
22 Mei 2026
•
15 menit baca
Catatan Pengantar Filsafat 2: Filsafat, Agama, dan Kehidupan (Prof. Bambang Sugiharto)
Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Pengantar Filsafat seri kedua bersama Prof. Bambang Sugiharto.
25 Mei 2026
•
15 menit baca
Catatan Pengantar Filsafat 3: Seni Hidup Filosofis (Prof. Bambang Sugiharto)
Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Pengantar Filsafat seri ketiga bersama Prof. Bambang Sugiharto.