Kembali ke artikel

6 Juni 2026

10 menit baca

Catatan Pengantar Filsafat 5: Filsafat, Sains, dan Ideologi (Prof. Bambang Sugiharto)

Artikel ini merupakan catatan dan refleksi dari Kuliah Pengantar Filsafat seri kelima bersama Prof. Bambang Sugiharto.

Filsafat

Sejarah itu hanya satu versi

Sebelum masuk ke tema ideologi, Prof. Bambang menyelesaikan satu pembahasan yang belum tuntas dari sesi sebelumnya: bagaimana filsafat bisa menginspirasi ilmu pengetahuan secara konkret. Salah satu contoh paling menarik datang dari Michel Foucault, seorang filsuf Prancis yang memberikan inspirasi luar biasa bagi ilmu historiografi, yakni cara kita menulis dan memahami sejarah.

Gagasan inti Foucault sederhana namun menarik, yaitu sejarah bukan narasi tunggal yang linier. Setiap peristiwa sejarah sebetulnya bisa dikaitkan dengan begitu banyak peristiwa lain dari berbagai arah dan sejarah resmi adalah hasil pilihan sadar tentang kaitan mana yang dilihat dan kaitan mana yang disembunyikan.

Prof. Bambang menggunakan contoh peristiwa G30S/PKI dari versi yang dipelajari di sekolah selama Orde Baru adalah satu versi, yaitu versi kekuasaan. Ketika kita mendengar kisah dari sudut pandang Gerwani, dari para korban yang menjadi tahanan politik, atau dari sejarawan seperti Benedict Anderson, faktanya menjadi berbeda, bahkan bertentangan. Bukan karena yang satu benar dan yang lain salah, melainkan karena sejarah adalah tafsir atau upaya mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa-peristiwa lain dari sudut tertentu. Sudut pandang yang dipilih menentukan tampang sejarah yang dihasilkan.

Contoh lainnya adalah peranan dunia Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan Aristotelian hampir tidak pernah disebutkan dalam buku-buku sejarah Barat selama berabad-abad. Padahal pada abad ke-9 hingga ke-12, ketika Eropa berada dalam abad kegelapan, dunia Islam justru mengalami abad keemasan karena salah satunya adalah menerjemahkan, mengkaji, dan mengembangkan Aristoteles secara kritis melalui tokoh-tokoh seperti Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina. Pemikiran yang masuk ke Eropa dan memicu Renaissance sebagiannya datang dari jalur itu. Baru pada abad ke-20 hal ini mulai diakui karena sebelumnya sentimen dan kepentingan tertentu membuatnya tidak terlihat.

Artinya adalah kita harus selalu mencurigai kesinambungan yang terlalu mulus dalam sejarah, karena di balik narasi yang tampak utuh biasanya tersembunyi pilihan-pilihan yang tidak netral.

Apa itu ideologi?

Terdapat dua pengertian ideologi, yang pertama yaitu dalam artian ideologi sebagai pandangan dunia (worldview) adalah seperangkat prinsip dasar atau pandangan dunia yang dijadikan pegangan utama dalam hidup. Dalam bahasa filsafat disebut worldview atau gambaran menyeluruh tentang apa itu hidup, manusia, kerja, akhirat, nilai, dan tujuan.

Hampir segala sesuatu bisa menjadi ideologi dalam pengertian ini. Pancasila adalah ideologi negara. Marxisme adalah ideologi negara-negara sosialis. Agama-agama besar berfungsi sebagai worldview yang menjadi pegangan kolektif. Setiap suku dan kebudayaan seperti Sunda, Jawa, dan Asmat membangun gambaran dunianya sendiri yang khas, terpantul dalam mitos-mitos dan nilai-nilai yang mereka pegang. Bahkan sains pun bisa menjadi ideologi ketika dipegang sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran, inilah yang disebut sebagai saintisme.

Pengertian kedua berasal dari tradisi Marxisme, yaitu ideologi sebagai kesadaran palsu (false consciousness) adalah kesadaran yang dikecoh, ditipukan, atau dibelokkan. Dalam kerangka ini, ideologi bukan sekadar pandangan hidup yang netral, melainkan pandangan hidup yang berfungsi mengaburkan realitas demi kepentingan kelompok tertentu.

Contoh paling tajam yang digunakan Marx adalah agama. Ketika kaum buruh yang tertindas menerima kondisinya atas nama ketabahan, takdir, dan harapan surga justru mereka menurut Marx nyatanya sedang tertipu. Mereka memiliki kemampuan untuk mengubah struktur ekonomi yang menindas mereka, tapi kesadaran itu dikecoh oleh yang ia sebut opium agama yang membuat kaum buruh justru pasif menunggu balasan di akhirat, alih-alih bergerak mengubah nasib di dunia nyata.

Namun Prof. Bambang mengingatkan bahwa false consciousness tidak berarti selalu berbentuk agama. Sains pun bisa menjadi ideologi dalam pengertian ini, ketika kita dikecoh untuk percaya bahwa pengetahuan ilmiah adalah satu-satunya pengetahuan yang sah, sehingga seluruh kekayaan pengetahuan tradisional, spiritual, dan kultural dianggap tidak bernilai itu juga merupakan sebuah pengecohan.

Sains juga tidak bebas dari mitos dan iman

Sains itu tidak semurni yang dibayangkan karena pertama, sains juga mengandung unsur mitos. Big Bang, teori evolusi, Big Crunch semua ini tidak bisa dibuktikan sepenuhnya secara langsung. Ia adalah ekstrapolasi atau spekulasi yang terkalkulasi berdasarkan data. Berbeda dengan spekulasi yang berarti dugaan tanpa kalkulasi, sains adalah ekstrapolasi yaitu spekulasi yang terkalkulasi. Berbeda dengan mitos biasa, ekstrapolasi punya dasar hitungan dan logika, tapi pada dasarnya ia tetap spekulasi. Seperti quick count dalam pemilu, bukan hasil akhir, namun taksiran yang bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan sampel data. Hal ini adalah ilmiah tapi bukan kepastian absolut.

Kedua, sains mengandung unsur iman. Paling tidak, sains mensyaratkan kepercayaan pada kemampuan nalar untuk memahami realitas. Itu adalah postulat atau prinsip yang harus diterima begitu saja agar seluruh bangunan ilmu pengetahuan bisa berdiri. Kepercayaan pada nalar itu sendiri boleh dipersoalkan. Kenapa kita begitu yakin bahwa nalar adalah alat yang paling andal untuk memahami dunia? Bukankah manusia juga punya perasaan, intuisi, dan dimensi spiritual yang tidak bisa direduksi menjadi kalkulasi?

Seperti kata Imanuel Kant, ada postulat-postulat dalam setiap sistem berpikir karena jika ia dipersoalkan, maka seluruh bangunan pemikiran akan runtuh. Dalam sains, kepercayaan pada nalar adalah postulat seperti itu. Dalam agama, keberadaan Tuhan bisa menjadi postulat serupa.

Maka klaim sains bahwa ia sepenuhnya bebas dari kepercayaan perlu dipertanyakan. Sebab klaim sains bahwa seeing is believing atau dengan melihat maka percaya, tidak ada apriori dan tidak ada iman justru terbalik di bawah pemeriksaan kritis ini. Yang terjadi sebenarnya pada sains adalah lebih dekat dengan believing is seeing atau mempercayai baru melihat sehingga apa yang ada di kepala kita menentukan apa yang kita lihat dan dianggap bermakna.

Kelebihan sains yang tetap perlu diakui

Meski mengkritiknya, Prof. Bambang tidak menolak sains. Ada satu kelebihan sains yang ia akui, yaitu keterbukaan terhadap kritik yang sistematik. Sains bukan pengetahuan yang paling benar, tapi ia adalah jenis pengetahuan yang secara konsisten belajar dari kesalahannya sendiri. Ketika ada temuan baru yang menggugurkan teori lama, maka sains akan menerima itu dan bergerak maju.

Berbeda dengan teologi atau ilmu tradisional yang sering tidak mau dikritik dan cenderung mempertahankan posisinya meskipun ada bukti yang bertentangan. Sains relatif demokratis, siapa pun, asalkan bisa membuktikan temuannya di jurnal-jurnal ilmiah yang kredibel, bisa menggugurkan Einstein sekalipun. Prosesnya berat dan panjang, tapi secara prinsip terbuka untuk siapa saja.

Pengetahuan tradisional yang sering diremehkan

Prof. Bambang membuka ruang untuk sebuah pertanyaan yang jarang diajukan secara serius, yaitu bagaimana dengan pengetahuan-pengetahuan yang tidak ilmiah seperti akupuntur, yoga, astrologi, feng shui, weton, pengobatan tradisional? Apakah semua itu harus dibuang hanya karena tidak memenuhi standar sains modern?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Feng shui misalnya, digunakan oleh sejumlah arsitek terlatih yang menemukan bahwa ia memiliki akurasi yang mengejutkan dalam memperkirakan dinamika hubungan penghuni dengan ruang yang mereka tempati. Astrologi bukan dalam arti ramalan picisan, tapi dalam arti perhitungan peredaran planet yang serius juga menunjukkan akurasi dalam tangan-tangan terlatih.

Logikanya sederhana, jika suatu pengetahuan benar-benar tidak memberikan hasil apa pun, ia tidak akan bertahan selama berabad-abad. Ketahanan itu sendiri adalah bukti awal bahwa sesuatu ada yang bekerja di sana, meskipun mekanismenya berbeda dari sains dan belum bisa dijelaskan dalam kerangka ilmiah yang ada.

Arogansi sains yang menolak semua pengetahuan non-ilmiah itu sendiri adalah bentuk ideologisasi dalam artian kesadaran yang dikecoh oleh hegemoni satu jenis pengetahuan hingga tidak bisa melihat kekayaan jenis-jenis pengetahuan yang lain.

Ideologi yang multipel dan identitas yang ganda

Di era pramodern, setiap orang hidup dalam satu worldview yang relatif tunggal dan tidak dipertanyakan. Orang Jawa menerima pandangan hidup Jawa karena tidak ada alternatif yang terlihat. Batas dunia adalah batas ideologi.

Hari ini semua itu berubah drastis. Internet, media sosial, mobilitas global, dan interaksi lintas budaya yang tak terbatas telah membakar kerangkeng-kerangkeng lama. Setiap orang kini terpapar begitu banyak worldview sekaligus. Seseorang bisa secara resmi beragama A, tapi dalam praktik hidupnya menggunakan pertimbangan ilmiah untuk urusan kesehatan, mempercayai astrologi untuk urusan asmara, menghormati tradisi leluhur untuk urusan keluarga, dan berpikir seperti liberal Barat dalam urusan karier.

Hasilnya adalah apa yang Prof. Bambang sebut sebagai ideologi yang multipel, tidak ada lagi satu pegangan tunggal yang menentukan semua aspek kehidupan. Dan konsekuensinya adalah identitas yang ganda. Siapa saya sebenarnya? Jawa? Islam? Katolik? Modern? Kosmopolit? Jawabannya semakin tidak bisa dijawab dengan satu label.

Fanatisme dan kedewasaan

Situasi ketidakpastian identitas ini membuat tidak nyaman. Lalu, Prof. Bambang mengamati dua respons yang berbeda, yaitu respons pertama adalah kepanikan dan fanatisme. Ada orang yang tidak tahan dengan ambiguitas. Ketika tidak tahu lagi siapa dirinya, ketika identitas terasa cair dan tidak solid, mereka merespons dengan mencengkeram satu identitas dengan sangat kuat, menjadi sangat fanatik terhadap satu agama, satu suku, satu ideologi. Gerakan-gerakan "pemurnian" agama atau budaya yang marak hari ini sebagian besar adalah gejala kepanikan ini. Bukan keyakinan yang kuat, melainkan kecemasan yang ditutupi oleh kekakuan.

Paradoksnya, tidak ada budaya atau agama yang murni sejak awal. Setiap kebudayaan adalah produk interaksi, seperti Islam masuk ke Nusantara dan bertemu dengan Hindu-Buddha, menghasilkan sesuatu yang baru. Kebiasaan merokok "khas Melayu" ternyata berasal dari Indian Amerika. Kebiasaan mandi air panas yang dianggap modern Barat ternyata berasal dari Turki. Klaim kemurnian hampir selalu ilusi. Dan mengejar ilusi itu sering kali berakar bukan pada keyakinan yang kokoh, melainkan pada inferioritas atau rasa minder yang membutuhkan keunggulan imajiner untuk menutupi dirinya.

Respons kedua adalah kedewasaan dan pemikiran kritis. Alih-alih panik atau berpura-pura punya satu identitas yang murni, orang yang dewasa secara intelektual menerima kenyataan bahwa identitasnya memang plural, bahwa kepala kita memang dipengaruhi banyak pihak, dan justru karena itu kita perlu berpikir sendiri dan memilah mana yang kita terima, mana yang kita tolak dan mengapa. Inilah fungsi filsafat yang paling relevan di era ini.

Ketika ideologi bertemu batas

Ada pertanyaan yang menarik, apakah setiap ideologi atau pandangan hidup itu pada dasarnya terbatas karena pikiran manusia juga terbatas? Kalau iya, apa konsekuensinya bagi manusia modern?

Jawabannya adalah iya, setiap pandangan hidup itu terbatas dan kita hanya menyadari keterbatasan itu ketika kita mulai "gaul", mulai bersentuhan dengan pandangan lain. Bayangkan seseorang yang tumbuh dalam tradisi Jawa yang belum terpapar dunia luar. Pandangan hidupnya membentuk gambaran yang utuh dan tidak dipertanyakan seperti hidup hanya mampir ngombe, jangan serakah, nerimo, bahkan pada tingkat mistik tertinggi ada ajaran mati sak jerone ngurip atau mati sebelum mati, hidup asketik, atau menafikan tubuh dan materi demi kemurnian batin. Itu worldview yang koheren dan bermakna dalam dirinya sendiri.

Namun ketika orang itu pergi ke luar, melihat negara-negara maju di mana tubuh dihargai, kenikmatan duniawi dirayakan, materi diperlakukan bukan sebagai musuh tapi sebagai bagian dari hidup yang layak dinikmati, maka worldview sebelumnya mulai goyah. Ia mulai bertanya, kenapa juga kita menafikan materi? Kenapa tubuh harus dianggap kelas dua? Bukankah bukan hanya tubuh yang bergantung pada ruh atau batin, tapi ruh juga menubuh? Pandangan yang tadinya terasa ideal dan lengkap tiba-tiba terasa sempit.

Inilah yang terjadi pada semua orang di era ini, hanya saja medianya bukan perjalanan fisik, melainkan internet. Semua orang sekarang "gaul" tanpa harus ke mana-mana. Kerangkeng-kerangkeng worldview lama terbuka paksa oleh banjir perspektif dari segala penjuru. Dan hasilnya adalah apa yang Prof. Bambang sebut, tidak ada lagi orang yang betul-betul berideologi tunggal.

Isi kepala manusia modern sudah plural, majemuk, bahkan campur aduk. Apapun agamanya, sukunya, latar belakangnya untuk urusan kesehatan ia percaya sains, untuk asmara masih lihat bintang, untuk urusan keluarga ia ikut adat, untuk urusan karier ia berpikir pragmatis ala barat. Bukan inkonsistensi, tapi itu adalah kenyataan hidup yang kompleks.

Tapi Prof. Bambang melihatnya dari sudut yang berbeda. Situasi ini bukan laknat, tapi ini adalah peluang untuk kedewasaan yang sesungguhnya. Justru karena tidak ada lagi satu sistem besar yang bisa diandalkan untuk menjawab semua pertanyaan hidup, setiap orang kini ditantang untuk berpikir sendiri, memilah sendiri, merumuskan sendiri apa yang ia yakini dan mengapa. Dan di sinilah filsafat bukan sebagai koleksi doktrin, tapi sebagai cara berpikir kritis dan mendalam menjadi tidak tergantikan

Penutup

Ironi terbesar era kita adalah di saat informasi berlimpah seperti tidak pernah terjadi sebelumnya, kemampuan untuk berpikir jernih dan mandiri justru semakin langka. Semua orang bisa memengaruhi semua orang. Ideologi mengalir dari segala arah tanpa filter. Identitas menjadi cair dan mudah dibentuk oleh siapa saja yang paling keras berteriak.

Dalam situasi seperti ini, orang yang tidak memiliki kemampuan berpikir kritis dan mandiri akan diombang-ambingkan dan ditarik ke sana-sini oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing. Dan orang yang paling rentan adalah mereka yang mengira cukup mengandalkan satu sistem besar di luar dirinya, entah itu agama, negara, ideologi, atau guru tertentu untuk memberitahu apa yang harus dipercaya dan bagaimana harus hidup.

Filsafat tidak menawarkan kepastian. Ia justru mengajarkan cara hidup dengan ketidakpastian secara dewasa, dengan mata terbuka, pikiran yang terus bergerak, dan keberanian untuk merumuskan sendiri apa yang kita percayai dan mengapa.

Sumber

  • Perkuliahan Pengantar Filsafat 5 oleh Prof. Bambang Sugiharto

Daftar isi

Artikel terkait

Dibuat pelan-pelan dengan rasa hangat dari Kuningan.

© 2026 Rifky Haekal Al-Fadillah